BEIJING - Pengadilan di kota bagian timur China, Suzhou, menetapkan logo Molly Tea, firma minuman berbasis teh melati serta bunga lainnya, sudah menyalahi merek dagang monogram kepunyaan Louis Vuitton (LV).
Mengutip The Associated Press, Rabu, (8/7/2026), perusahaan itu dituntut untuk membayarkan 10,3 juta yuan atau US$ 1,5 juta.
Nilai itu senilai Rp 27 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 18.000) kepada perusahaan Prancis itu, berdasarkan keterangan media setempat.
Media nasional serta komentator daring di China mempertanyakan asal-usul desain bunga dengan empat kelopak itu.
Mereka mempertimbangkan kemungkinan riwayat simbol merek dagang kepunyaan Louis Vuitton sebenarnya merupakan pola yang sudah ada di China sejak zaman dulu.
Sebagian juga menuduh Louis Vuitton melakukan monopoli terhadap motif tradisional China.
Vonis terbaru ini menjadi diskusi ramai di media internet Negeri Tirai Bambu tersebut.
Persengketaan kekayaan intelektual antara merek Barat serta China bukanlah perkara baru.
Merek internasional misalnya New Balance, produsen alas kaki asal Amerika Serikat, sudah menuntut firma-firma China ke pengadilan.
Mereka pun sesekali memenangkan kasus kekayaan intelektual serta merek dagang.
Tahun ini, Louis Vuitton memperingati hari jadi ke-130 dari desain monogramnya, dihitung dari tahun 1896.
Louis Vuitton menyatakan bahwa desain tersebut merupakan “simbol kreatifitas universal.”
"Monogram tersebut, lantaran, “terinspirasi dari ornamen neo-gotik dan pengaruh Japonisme,” dikutip dari Sumbernya.
Global Times, media surat kabar berbahasa Inggris di China menyebutkan ada “frustasi massal” perihal merek asing yang mengendalikan desain yang diyakini merupakan elemen dari warisan budaya China.
Beijing Daily menyebutkan pada Selasa, 7 Juli 2026, di Weibo, putusan itu menyingkap kesenjangan pada penjagaan warisan budaya serta simbol-simbol China.
“Bagaimana bisa perusahaan China membayar lebih dari 10 juta yuan kepada perusahaan Prancis karena menggunakan desain yang menyerupai pola kuno China?," demikian disebutkan.
Visual serta keterangan yang menyertai tulisan itu memperlihatkan pola di sebuah "pipa", kecapi tradisional China masa Dinasti Tang yang dibuat dari rosewood, berdampingan dengan motif monogram Louis Vuitton.
LVMH maupun Molly Tea tidak segera menanggapi permohonan keterangan.
Molly Tea yang dibangun pada 2021 masih memampang logo bunga dengan empat kelopak itu pada laman resmi hingga Selasa.
Perusahaan itu membeberkan kepada media bahwa mereka bakal mengajukan banding.