KLH Rilis SRUK 9 Juli, Incar Potensi Ekonomi Perdagangan Karbon

KLH Rilis SRUK 9 Juli, Incar Potensi Ekonomi Perdagangan Karbon
Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat. (Sumber Foto: suara.com)

JAKARTA - Pemerintah memproyeksikan potensi ekonomi dari perdagangan karbon di Indonesia mampu mencapai angka ribuan triliun rupiah. Guna mendukung pengembangannya, pemerintah akan meresmikan Sistem Registrasi Unit Karbon (SRUK) pada 9 Juli 2026 yang terintegrasi langsung dengan bursa karbon.

"Kami ada enam sektor yang bisa ikut memperdagangkan karbon. Kehutanan, ESDM, Perindustrian, Pertanian, KKP, dan LH sendiri. Nah enam ini terkoneksi dengan satu namanya SRN UK, Sistem Registrasi Nasional Unit Karbon yang akan di-launching tanggal 9. SRN UK inilah kemudian yang terkoneksi dengan bursa," kata Jumhur dalam diskusi di Jakarta, Selasa (30/6/2026).

Ia menyatakan bahwa para investor telah menantikan peluncuran sistem tersebut. Dengan terhubungnya SRN UK ke bursa karbon, transaksi diharapkan akan berjalan lebih optimal.

"Begitu kami launch dan kemudian ada interoperability dengan bursa karbon, maka mereka sudah bisa langsung. Semua kementerian atau sektoral tadi sudah mempersiapkan tata caranya. Tanggal 9 dimulai, nanti akan ada penjelasan lebih detail. Dan potensinya juga ribuan triliun ke depannya," ujarnya.

Menurut Jumhur, pemerintah ingin memastikan bahwa perdagangan karbon bukan sekadar aktivitas transaksi jual beli, melainkan juga instrumen untuk mendorong pengurangan emisi, adaptasi perubahan iklim, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Perdagangan karbon ini bukan menjadi sekadar permainan pedagang. Yang paling penting itu memastikan terjadinya mitigasi terhadap perubahan iklim. Yang kedua, adaptasi. Bahkan di kami tambah lagi prosperity atau kesejahteraan," katanya.

Ia menambahkan, pemerintah saat ini sedang menyusun skema pembagian keuntungan (benefit sharing) agar masyarakat yang menjaga kawasan berkarbon tinggi dapat memperoleh manfaat ekonomi dari perdagangan tersebut.

"Kami lagi sekarang mencari formula benefit sharing untuk lokal komunitas. Misalnya ada sebidang hutan yang punya nilai karbon, kemudian diperdagangkan, pertanyaannya siapa penerima manfaat. Saya mendorong penerima manfaat itu harus mereka yang ada di situ," ucap Jumhur.

Menurutnya, semakin besar manfaat yang dirasakan masyarakat lokal, maka akan semakin tinggi pula nilai karbon Indonesia di pasar internasional.

"Semakin kami menghargai masyarakat lokal, semakin kami menghargai orang yang tinggal di situ, maka mereka menghargai harga lebih tinggi. Semakin kami cuek, semakin direndahkan harga kami. Jadi perdagangan karbon ini menarik dan kami harus ikut dalam permainan itu. Jangan sampai karbon kami jadi murah," pungkasnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index