JAKARTA - Kementerian Keuangan Amerika Serikat menerbitkan dispensasi atas sanksi yang selama ini memblokade ekspor minyak serta produk petrokimia asal Iran.
Langkah anyar ini memberikan ruang bagi Iran untuk meneruskan aktivitas lego minyak mentah, produk petrokimia, beserta pelbagai produk turunannya sampai tanggal 21 Agustus 2026.
Berdasar pada wartawan Kantor Berita Mehr pada Selasa (23/6/2026), Kantor Pengawasan Aset Asing (OFAC) yang berada di bawah naungan Kementerian Keuangan AS sudah merilis lisensi resmi yang melegalkan proses produksi, pengapalan, hingga komersialisasi minyak mentah, produk petrokimia, serta produk minyak bumi asal Iran sampai tenggat waktu yang ditentukan tersebut.
Melalui maklumat resminya, pihak OFAC mempertegas bahwa dispensasi ini menyasar pada operasional niaga minyak mentah, produk petrokimia, dan beraneka produk turunan minyak Iran yang pada periode sebelumnya terkena jerat rezim sanksi Amerika Serikat.
Kebijakan ini mencuat selang satu hari sesudah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, membeberkan rentetan dinamika terbaru setelah rampungnya putaran awal negosiasi alot di Bürgenstock, Swiss.
Lewat saluran pribadi di media sosial pada Minggu (22/6), Araghchi menyebut mediasi yang dilakukan Pakistan dan Qatar telah menghasilkan kemajuan signifikan dalam upaya mengakhiri perang di Lebanon. Ia juga mengungkapkan bahwa sanksi terhadap ekspor minyak dan petrokimia Iran telah ditangguhkan, blokade maritim telah dicabut, sebagian aset Iran yang dibekukan telah dibebaskan, serta program besar rekonstruksi dan pembangunan ekonomi Iran mulai dijalankan.
Pelepasan lisensi oleh OFAC tersebut bertransformasi menjadi poros dinamika krusial di tengah pusaran diplomasi yang bergulir intensif selama beberapa hari ke belakang.
Aksi regulasi ini sekaligus menjadi sinyalemen kuat terjadinya reduksi atas restriksi finansial yang selama ini membelenggu lini bisnis energi milik Iran.