Dunia Borong Cadangan Minyak Akibat Konflik Bersenjata di Iran

Dunia Borong Cadangan Minyak Akibat Konflik Bersenjata di Iran
Kilang minyak (FOTO: NET)

LONDON - Sejumlah negara yang terdampak secara ekonomi akibat konflik bersenjata di Iran kini bergegas memperkuat sistem keamanan energi di dalam negeri masing-masing.

Aksi besar-besaran dalam meningkatkan cadangan minyak dan gas strategis (Strategic Petroleum Reserves/ SPR) ini diperkirakan bakal mendongkrak permintaan baru sampai setengah miliar barel di pasar internasional.

Sebelumnya, aksi pemblokiran total di Selat Hormuz sepanjang lebih dari sembilan puluh hari sempat menghentikan seperlima pasokan minyak serta gas alam cair (LNG) global, sehingga mendongkrak harga minyak mentah Brent hingga mendekati angka US$ 120 per barel.

Meski begitu, keadaan tersebut pada akhirnya dapat diredam berkat pemanfaatan cadangan darurat yang dimiliki dunia.

Sepanjang konflik berlangsung, terdapat dua strategi utama yang dinilai sukses mengamankan pasar energi internasional sebagaimana dikutip Reuters, Senin (22/6/2026).

Pelepasan Cadangan IEA: Sebanyak 32 anggota Badan Energi Internasional (IEA) sepakat melepas rekor 400 million barel cadangan darurat kami. Sesuai aturan, anggota IEA wajib memiliki cadangan setara 90 hari impor bersih.

Strategi Mandiri China: Meski bukan anggota penuh IEA, China berhasil melewati krisis berkat cadangan SPR raksasa kami yang mencapai lebih dari satu miliar barel. Dengan "dana darurat" ini, pemerintah China memotong pembelian minyak mentah hingga sepertiga selama perang, menghemat miliaran dolar, dan terhindar dari guncangan ekonomi.

Kondisi sebaliknya justru dirasakan oleh beberapa negara seperti India, Pakistan, dan Thailand.

Akibat minimnya stok cadangan di dalam negeri, negara-negara tersebut terpaksa mengambil kebijakan penghematan yang sangat ketat.

Kebijakan tersebut mulai dari pemberian subsidi secara ketat, pembatasan distribusi bahan bakar, hingga memangkas jumlah hari kerja guna menekan angka konsumsi.

Saat ini, arah perburuan cadangan minyak strategis (SPR) di tingkat global telah mengalami pergeseran yang cukup signifikan.

Di India, selaku negara importir minyak terbesar ketiga di dunia, pasokan cadangan mereka kala itu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan impor selama 8 hari saja.

Demi mengejar standar 90 hari yang ditetapkan IEA, India memerlukan pasokan tambahan hingga 400 juta barel (setara $28 miliar).

Langkah awal kini telah digulirkan lewat perintah kepada Oil and Natural Gas Corporation guna membangun tempat penyimpanan baru berkapasitas 13 juta barel.

Sementara itu di Pakistan, mengingat 90% kebutuhan energinya ditopang oleh kawasan Timur Tengah sebelum pecahnya perang, mereka saat ini menyusun rencana untuk memperbesar kapasitas penampungan domestik mencapai 35 juta barel.

Di wilayah lain, Australia bersiap mengucurkan anggaran senilai US$ 7 miliar demi mengamankan ketersediaan bahan bakar minimal untuk 50 hari ke depan.

Singapura juga tengah mengkaji opsi perluasan area penampungan gas dan minyak mereka.

Eropa pun mulai melirik pengelolaan penyimpanan gas yang diawasi ketat oleh pemerintah seiring dengan melonjaknya ketergantungan LNG dari AS yang melewati angka 40%.

Bahkan perusahaan minyak raksasa seperti Saudi Aramco turut memperbanyak tangki penampungan mereka di luar area Arab (di antaranya di Jepang dan Korea Selatan) guna menjaga fleksibilitas aktivitas ekspor saat terjadi krisis.

Berdasarkan perhitungan dari tim Reuters, target penimbunan secara global ini diproyeksikan bakal memerlukan setidaknya 500 juta barel minyak mentah beserta produk turunannya.

Di samping itu, dunia juga berkewajiban untuk mengisi kembali sekitar 400 juta barel stok cadangan yang sebelumnya sempat terkuras habis sewaktu perang berkecamuk.

Kombinasi antara kebutuhan wadah penampungan baru serta pengisian ulang tangki cadangan yang kosong tersebut menyentuh angka total hingga 1 miliar barel.

Walau proses pemulihan ini bakal memakan waktu hingga beberapa tahun ke depan, jumlah yang sangat besar tersebut dipastikan akan menjadi faktor pendorong kuat bagi harga minyak mentah global agar tidak merosot secara tajam.

Selat Hormuz sendiri merupakan sebuah jalur laut sempit yang menjadi pemisah antara wilayah Iran dengan Jazirah Arab (Oman dan Uni Emirat Arab).

Kawasan ini dinilai sebagai titik perlintasan minyak paling vital di dunia lantaran menghubungkan para produsen minyak raksasa di kawasan Timur Tengah seperti Arab Saudi, Irak, UEA, Kuwait, dan Iran dengan sejumlah pasar utama di Asia, Eropa, serta Amerika Utara.

Setiap harinya, lebih dari 20% dari total konsumsi minyak bumi dunia serta sebagian besar komoditas gas alam (LNG) asal Qatar melintasi selat yang memiliki lebar 39 kilometer ini.

Pertikaian bersenjata yang melibatkan pihak Iran berakhir pada pemblokiran jalur distribusi logistik yang sangat penting ini.

Hal tersebut menimbulkan dampak domino berupa kelangkaan pasokan energi global serta memicu inflasi yang tinggi di berbagai kawasan dunia.

Pemblokiran secara menyeluruh selama tiga bulan sepanjang peperangan tersebut akhirnya menyadarkan negara-negara importir bahwa ketergantungan logistik tanpa ditopang oleh bantalan cadangan di dalam negeri merupakan sebuah ancaman yang sangat fatal bagi stabilitas nasional.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index