JAKARTA - Selama ini, hutan sering dianggap sebagai salah satu “perisai” alami terpenting bagi bumi dalam upaya mitigasi perubahan iklim.
Namun, efisiensi penyerapan karbon oleh hutan sesungguhnya tidak hanya bergantung pada total gas CO? yang diserap oleh pohon, tetapi juga pada jumlah karbon yang berhasil tersimpan di dalam biomassa kayu.
Ketika karbon terikat di dalam kayu, zat tersebut dapat bertahan di atmosfer selama beberapa dekade, bahkan berabad-abad. Sebaliknya, karbon yang digunakan untuk pertumbuhan daun, akar, atau proses metabolisme lainnya biasanya tersimpan dalam jangka waktu yang jauh lebih pendek.
Para ilmuwan iklim sejak lama telah memperkirakan bahwa peningkatan konsentrasi CO? akibat pembakaran bahan bakar fosil akan memungkinkan ekosistem darat untuk terus menyerap karbon sepanjang abad ke-21.
Namun, banyak model saat ini masih menggunakan laju fotosintesis sebagai indikator utama kapasitas penyerapan karbon hutan, bukan laju pertumbuhan biomassa kayu yang sebenarnya.
Mukund Palat Rao, seorang ilmuwan siklus karbon di Lamont-Doherty Earth Observatory Universitas Columbia sekaligus penulis utama studi tersebut, menjelaskan bahwa sebagian besar model saat ini mengasumsikan fotosintesis selalu berbanding lurus dengan pertumbuhan.
Akan tetapi, penelitian mereka membuktikan bahwa hubungan tersebut tidak selalu ada. Menurutnya, fotosintesis yang lebih efisien pada tumbuhan tidak menjamin mereka akan tumbuh lebih cepat atau menyimpan lebih banyak karbon di masa depan.
“Sebagian besar model saat ini mengasumsikan fotosintesis terkait dengan pertumbuhan. Namun, penelitian menunjukkan bahwa hubungan ini tidak selalu ada,” ujar Rao.
Data di wilayah timur Amerika Serikat menunjukkan bahwa sekitar 36% karbon yang diserap pohon selama setahun justru terjadi setelah pohon berhenti tumbuh di akhir musim panas, sementara di California angka ini mencapai 26%.
Pengukuran terperinci di empat area penelitian mengungkapkan bahwa pembentukan kayu terutama terjadi dalam kondisi cuaca sejuk dan tidak terlalu kering. Sayangnya, kondisi yang mendukung ini semakin langka karena meningkatnya suhu global yang memicu gelombang panas dan kekeringan lebih sering.
Menurut Rao, saat cuaca menjadi panas dan kering, pertumbuhan pohon hampir langsung berhenti, sementara fotosintesis tetap berlanjut meskipun dengan kecepatan lebih lambat. Hal ini menyebabkan sebagian karbon yang diserap digunakan untuk aktivitas fisiologis lainnya alih-alih diubah menjadi kayu.
Tim peneliti saat ini terus mengkaji apakah ketidakselarasan antara fotosintesis dan pertumbuhan kayu terjadi pula pada spesies pohon dan wilayah lain.
Hasil awal menunjukkan bahwa kapasitas penyimpanan karbon jangka panjang hutan tidak hanya bergantung pada jumlah karbon yang diserap, tetapi juga pada bagaimana pohon mendistribusikan karbon tersebut.
“Jika perubahan iklim terus memperburuk kekeringan dan suhu ekstrem, kapasitas penyimpanan karbon hutan dapat menurun. Ini berarti model iklim saat ini berisiko melebih-lebihkan peran hutan dalam menyerap gas rumah kaca dan memperlambat pemanasan global,” tutup para penulis.