Prospek Bioenergi: Pangkas Emisi dan Ciptakan 150 Ribu Lapangan Kerja

Prospek Bioenergi: Pangkas Emisi dan Ciptakan 150 Ribu Lapangan Kerja
Dekan Fakultas Teknologi dan Bisnis Energi Institut Teknologi PLN Eri Prabowo (kiri) dan Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir dalam Seminar Series #3. (Sumber Foto: rm.id)

JAKARTA - PT PLN Energi Primer Indonesia memandang pengembangan bioenergi nasional mempunyai kapasitas besar untuk menopang ketahanan energi, mempercepat dekarbonisasi, sekaligus membuka kesempatan ekonomi baru bagi masyarakat. 

Selain sanggup menekan emisi karbon, pengembangan ekosistem biomassa juga diproyeksikan membuka hingga 150 ribu lapangan kerja dalam beberapa tahun mendatang.

Direktur Biomassa PLN Energi Primer Indonesia, Hokkop Situngkir, mengatakan bahwa pemanfaatan biomassa secara masif pada sektor ketenagalistrikan akan memberikan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan yang signifikan.

“Kalau implementasi biomassa mencapai 10 juta ton per tahun di pembangkit, nilai ekonominya bisa mencapai Rp 11 triliun. Reduksi emisinya sekitar 12 juta ton CO2 dan potensi tenaga kerja yang tercipta bisa mencapai 150 ribu orang dalam tiga sampai empat tahun,” ujar Hokkop dalam keterangannya, Rabu (3/6).

Menurut Hokkop, biomassa adalah salah satu solusi transisi energi yang bisa diaplikasikan secara cepat lewat program co-firing pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap. Melalui skema tersebut, sebagian penggunaan batu bara diganti dengan biomassa berbasis limbah pertanian, perkebunan, kehutanan, maupun limbah organik lainnya.

“Bioenergi bukan untuk menggantikan pembangkit fosil secara total dalam waktu singkat, melainkan menjadi solusi transisi yang memungkinkan penurunan emisi secara bertahap tanpa mengganggu keandalan pasokan listrik nasional,” jelasnya.

Kini, PLN telah menerapkan co-firing biomassa di 52 Pembangkit Listrik Tenaga Uap di berbagai daerah di Indonesia. Sepanjang tahun 2025, pemanfaatan biomassa mencapai sekitar 2,35 juta ton dengan sumbangsih pengurangan emisi sebesar 2,57 juta ton CO2 ekuivalen. 

PLN juga telah menggunakan sedikitnya 14 jenis biomassa dengan nilai kalor rata-rata 3.152 kCal/kg, di antaranya cangkang sawit, sekam padi, bonggol jagung, serbuk gergaji, limbah kayu, hingga limbah rumah tangga yang sudah diolah menjadi bahan bakar alternatif.

Dalam paparannya, Hokkop mengungkapkan Indonesia memiliki potensi biomassa yang sangat besar, mencapai sekitar 83,4 juta ton per tahun. Potensi tersebut tersebar di berbagai wilayah, terutama Sumatera sebesar 42,8 juta ton, Kalimantan 18,9 juta ton, dan Jawa 13,1 juta ton per tahun. 

Namun, tingkat pemanfaatan bioenergi nasional masih relatif rendah. Konsumsi bioenergi Indonesia saat ini baru sekitar 0,35 gigajoule per kapita per tahun, jauh di bawah potensi yang tersedia yang mencapai sekitar 6,5 gigajoule per kapita per tahun.

“Indonesia memiliki sumber daya biomassa yang sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana membangun ekosistem pasok yang terintegrasi sehingga potensi tersebut dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat dan mendukung ketahanan energi nasional,” ujarnya.

PLN Energi Primer Indonesia juga mulai mengembangkan pemanfaatan bioenergi berbasis biogas dan biohidrogen, salah satunya melalui pemanfaatan gas metana dari limbah cair kelapa sawit yang dapat diolah menjadi sumber energi alternatif pengganti gas alam.

“Metana memiliki potensi pemanasan global yang jauh lebih besar dibanding karbon dioksida. Dengan menangkap dan memanfaatkannya sebagai energi, kami tidak hanya menghasilkan energi bersih tetapi juga mengurangi emisi gas rumah kaca,” kata Hokkop.

Saat ini PLN Energi Primer Indonesia tengah mengembangkan sistem digitalisasi berbasis kecerdasan buatan untuk memonitor rantai pasok biomassa dan operasional co-firing di seluruh Indonesia. 

Lebih lanjut, Hokkop menegaskan bahwa pengembangan biomassa tidak hanya berkaitan dengan penyediaan energi, tetapi juga membuka peluang usaha baru di sektor hulu, mulai dari pengumpulan bahan baku, pengolahan biomassa, logistik, hingga pengembangan teknologi energi terbarukan.

PLN Energi Primer Indonesia juga terus mendorong keterlibatan masyarakat, petani, kelompok usaha desa, koperasi, hingga generasi muda dalam rantai pasok biomassa nasional.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index