JAKARTA - Asia diproyeksikan memasuki siklus super (supercycle) investasi energi senilai US$5,5 triliun dalam lima tahun ke depan.
Morgan Stanley menilai perusahaan serta pemerintah di kawasan Asia saat ini tengah meningkatkan belanja modal demi memperkuat keamanan energi, sekaligus memenuhi lonjakan kebutuhan listrik yang dipicu oleh perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
Bank investasi tersebut memperkirakan gelombang investasi ini akan memangkas ketergantungan Asia terhadap impor energi dari 36% menjadi 29% dari total konsumsi pada 2030.
Secara keseluruhan, peluang investasi di seluruh rantai nilai energi diperkirakan mencapai US$9 triliun, yang mencakup pembangkit listrik, jaringan transmisi, penyimpanan energi, kilang, industri pupuk, galangan kapal, hingga peralatan industri.
Analis Energi dan Utilitas India serta Asia Tenggara Morgan Stanley, Mayank Maheshwari, menyebutkan terdapat tiga faktor utama yang mendorong siklus investasi tersebut, yakni keamanan energi, perkembangan AI, dan meningkatnya konsumsi energi akibat tren reshoring manufaktur.
"Anda memiliki keamanan energi, Anda memiliki AI, dan Anda memiliki peningkatan konsumsi energi seiring meningkatnya reshoring manufaktur. Ketiganya bersatu membentuk siklus super investasi," ujarnya kepada The Business Times.
Morgan Stanley juga mengidentifikasi sekitar 70 saham global yang diprediksi bakal diuntungkan dari tren ini, mulai dari perusahaan peralatan batubara, kilang, petrokimia, hingga eksportir gas alam.
Di kawasan Asia, bank tersebut melihat tiga sektor yang berpotensi memberikan kejutan terhadap pendapatan dan dividen, yaitu pembangkit listrik berbasis batubara dan nuklir, rantai pasok penyimpanan energi dan jaringan listrik, serta industri pupuk.
Pilihan saham global unggulan Morgan Stanley meliputi Mitsui & Co., Venture Global, CATL, Keppel Corp, Kansai Electric Power, Cummins, dan Doosan Enerbility.
Walau investasi energi terbarukan telah meningkat lebih dari dua kali lipat dalam satu dekade terakhir, Morgan Stanley memperkirakan pertumbuhannya akan memasuki fase plateau.
Salah satu penyebabnya adalah kebutuhan investasi sekitar US$1 triliun untuk memperkuat jaringan listrik sebelum penetrasi energi terbarukan dapat meningkat lebih jauh.
Menurut Badan Energi Internasional (IEA), Asia Tenggara mencatat investasi energi terbarukan sebesar US$17 miliar pada tahun lalu, yang merupakan capaian tertinggi sejak 2015.
Morgan Stanley memperkirakan pembangkit listrik berbahan bakar batubara dan gas masih akan memainkan peran penting sepanjang sisa dekade ini.
Kedua sumber energi tersebut dinilai diperlukan untuk menjaga keandalan pasokan listrik serta mengatasi keterbatasan energi terbarukan yang masih menghadapi tantangan intermitensi.
Maheshwari menegaskan bahwa ekspansi energi terbarukan tetap penting untuk meningkatkan ketahanan energi Asia, namun tanpa dukungan sumber energi yang dapat diandalkan, sistem kelistrikan masih berisiko mengalami gangguan.
"Seiring meningkatnya permintaan terhadap pasokan listrik yang andal, energi terbarukan akan semakin diintegrasikan dengan batu bara dan gas untuk memastikan pasokan yang konsisten dan dapat ditingkatkan sesuai kebutuhan."
Morgan Stanley memperkirakan konsumsi batubara di Asia akan bertambah sekitar 500 juta ton per tahun, sementara konsumsi gas alam meningkat 100 juta ton per tahun pada 2030.
Kenaikan tersebut didorong oleh sektor transportasi, AI, serta meningkatnya kebutuhan listrik rumah tangga.
Secara keseluruhan, konsumsi energi Asia diproyeksikan bertambah 38 exajoule pada 2030, setara dengan total konsumsi energi Timur Tengah saat ini.
Sekitar dua pertiga kebutuhan tersebut diperkirakan dipenuhi dari sumber domestik, sementara sisanya masih bergantung pada impor.
Morgan Stanley juga menilai perusahaan-perusahaan mulai mengadopsi portofolio energi yang lebih beragam demi meningkatkan ketahanan operasional, contohnya penggunaan panel surya atap yang kini semakin banyak dipadukan dengan sistem penyimpanan baterai.
Maheshwari menambahkan bahwa batubara tetap memiliki peran dalam transisi energi, tetapi harus berjalan berdampingan dengan penyimpanan baterai dan energi terbarukan.
"Batu bara akan memainkan perannya, tetapi penyimpanan baterai juga sama pentingnya dan harus bekerja bersama energi terbarukan."
Di sisi pembiayaan, Morgan Stanley memperkirakan sekitar 75% investasi energi tersebut akan didanai melalui neraca perusahaan energi, menggunakan kombinasi arus kas operasional dan utang, sementara 25% sisanya diperkirakan berasal dari dukungan pemerintah dan lembaga publik.