JAKARTA - Pertamina menjalankan berbagai program pemberdayaan di sejumlah wilayah Indonesia, salah satunya melalui program Desa Energi Berdikari (DEB).
DEB merupakan program desa inovatif yang memanfaatkan energi bersih guna mendorong kemandirian masyarakat melalui penerapan Energi Baru Terbarukan (EBT).
DEB Keliki di Kecamatan Tegalallang, Kabupaten Gianyar, Bali, merupakan inisiatif Pertamina untuk menyediakan akses energi terbarukan bagi masyarakat pedesaan.
Program ini bertujuan menjadikan energi terbarukan sebagai solusi untuk menjawab berbagai tantangan kebutuhan masyarakat.
Kegiatan utama DEB Keliki meliputi pengolahan sampah menjadi kompos serta penguatan ketahanan pangan dengan menerapkan sistem pertanian ramah lingkungan.
Sumber energi untuk pengolahan sampah dan pompa pengairan sawah didukung oleh Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Jajaran Dewan Komisaris Pertamina meninjau serta mendengarkan penjelasan langsung dari penerima manfaat mengenai dampak program terhadap kemandirian masyarakat DEB Keliki pada Kamis (28/5/2026).
Local Hero sekaligus Ketua BUMDES Yowana Bakti Keliki, I Wayan Sumada, menceritakan dampak keterlibatan Pertamina melalui upaya pembinaan, pendampingan, dan pemberian fasilitas di desanya.
"Di Desa Keliki setidaknya menghasilkan sekitar 7 ton sampah per hari, dengan produktivitas yang sangat tinggi tersebut kehadiran Tempat Pengolahan Sampah Terpadu - Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) sangat membantu masyarakat untuk mengelola dan mengolah sampah," ujar I Wayan Sumada.
Untuk mendukung program pengolahan sampah tersebut, digunakan tenaga listrik dari PLTS dengan kapasitas terpasang 10,5 kWp.
PLTS ini menghasilkan 14.256 kWh per tahun energi surya.
Selain menghemat biaya listrik sebesar Rp21 juta per tahun, PLTS tersebut juga mampu mengurangi emisi gas rumah kaca mencapai 13,7 ton CO2eq per tahun.
Sumada mengakui, dukungan Pertamina juga mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah rumah tangga, baik sampah organik, anorganik, maupun residu.
"Saat ini kesadaran untuk masyarakat memilih sampah itu sudah sangat tinggi berkat kerjasama kami dengan Pertamina, kami mengelola sampah untuk dikembalikan ke alam hingga kemudian bisa semakin bermanfaat lagi untuk alam," tambahnya.
Untuk aktivitas pengairan sawah, DEB Keliki turut didukung PLTS berkapasitas 17,5 kWp.
Sistem ini digunakan untuk menggerakkan pompa air tanah bertenaga surya guna mendukung pengairan sawah selama musim kemarau di tujuh subak, yakni Tain Kambing, Sebali, Uma Desa Keliki, Jungut, Umelikode, Bangkiangsidem, dan Lauh Batu.
Khusus PLTS pengairan sawah menghasilkan 84.000 kWh per tahun energi surya, mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 23,1 ton CO2eq per tahun, serta menghemat biaya listrik Rp35 juta per tahun.
Dari sektor pertanian tersebut, DEB Keliki menghasilkan produk padi organik yang meningkatkan produktivitas panen secara signifikan.
Sebelum program diterapkan, hasil panen hanya berkisar 5 hingga 5,5 ton per hektare, namun setelah pendampingan, produktivitas meningkat menjadi 8,7 ton per hektare.
Komisaris Independen Pertamina, Raden Adjeng Sondaryani, mengaku takjub dengan keberhasilan program yang memberikan dampak positif bagi lingkungan dan manfaat ekonomi masyarakat.
"Dari program DEB Keliki ini, menunjukkan komitmen Pertamina dalam memberikan dukungan kepada masyarakat melalui program-program yang dimiliki. Melihat keberhasilan DEB Keliki, saya dan jajaran Dewan Komisaris sangat senang, semoga program TSJL Perusahaan, bisa lebih memberikan dampak yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat," kata Sondaryani.
DEB Keliki kini telah menjadi ekosistem percontohan penggerak ekonomi masyarakat melalui kegiatan Eco Village dan Agrikultur, yang melibatkan 1.200 kepala keluarga, sembilan pekerja, serta berkolaborasi dengan 15 UMKM pemuda desa.
Hasil pengelolaan sampah juga diolah menjadi pupuk organik, ecoenzyme, dan kompos organik berkualitas tinggi.
Berkat keberhasilan tersebut, DEB Keliki telah menerima kunjungan dari berbagai perguruan tinggi maupun wisatawan mancanegara dengan total setidaknya 6.000 tamu yang mempelajari pertanian berbasis energi bersih serta menikmati ekonomi lokal.