JAKARTA – Mendikdasmen menegaskan bahwa penerapan metode deep learning upaya capai cita-cita ideal pendidikan guna menciptakan generasi yang memiliki daya kritis tinggi.
Transformasi paradigma belajar ini bertujuan untuk menggeser fokus dari sekadar mengejar ketuntasan materi menuju penguasaan konsep yang substansial.
"Deep learning itu bukan kurikulum, tetapi pendekatan belajar untuk bagaimana siswa itu mengalami proses berpikir yang mendalam," ujar Abdul Mu'ti, sebagaimana dilangsir dari berbagai sumber, Minggu (3/5/2026).
Abdul Mu'ti berpendapat, bahwa pendekatan ini akan membebaskan guru dari tekanan beban kurikulum yang terlalu padat sehingga interaksi di kelas menjadi lebih bermakna.
Para siswa nantinya akan didorong untuk aktif bertanya dan mengeksplorasi fenomena yang relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka.
Metode ini juga digadang-gadang mampu mengatasi masalah rendahnya skor literasi yang selama ini menghantui potret pendidikan nasional.
Terdapat 3 elemen utama yang menjadi pilar dalam gagasan baru ini yaitu mindful learning, meaningful learning, dan joyful learning.
Pemerintah sedang mengkaji teknis pelaksanaan agar transisi ini tidak mengejutkan para pendidik di berbagai daerah pelosok.
Harapannya, setiap sekolah dapat mengadopsi fleksibilitas dalam mengajar sesuai dengan karakteristik unik dari masing-masing peserta didik.
Keseriusan dalam membenahi fondasi intelektual bangsa ini menjadi langkah krusial dalam menyongsong tantangan global di masa mendatang.