SURABAYA - Sebagai langkah mitigasi hadapi kemarau ekstrem Khofifah minta warga bijak pakai air serta menghindari aktivitas membakar sampah guna mencegah kebakaran hutan.
Kondisi iklim yang mulai menunjukkan peningkatan suhu signifikan menuntut kesadaran kolektif dari seluruh lapisan masyarakat di Jawa Timur.
Pemerintah provinsi terus melakukan koordinasi intensif dengan berbagai instansi terkait untuk memetakan wilayah yang memiliki kerawanan kekeringan paling tinggi.
"Hadapi kemarau ekstrem Khofifah minta warga bijak pakai air dan jangan membakar sampah atau serasah di lahan kering karena angin kencang bisa memicu api merembet," ujar Khofifah Indar Parawansa, sebagaimana dilansir dari kompas.com, Senin (27/4/2026).
Mantan orang nomor satu di Jatim tersebut menekankan bahwa penghematan air merupakan kunci utama agar cadangan sumber daya tetap mencukupi hingga musim hujan tiba.
Pengawasan terhadap kawasan hutan dan lahan gambut juga diperketat guna meminimalisir risiko terjadinya bencana kabut asap yang merugikan kesehatan.
Warga disarankan untuk melaporkan segera kepada petugas pemadam kebakaran atau Badan Penanggulangan Bencana Daerah jika melihat kepulan asap di area terbuka.
Sutedjo berpendapat bahwa kesiapan menghadapi perubahan cuaca ekstrem harus dibarengi dengan perubahan perilaku konsumsi sumber daya alam secara lebih bertanggung jawab.
Infrastruktur penampungan air seperti waduk dan embung kini tengah dipantau kapasitasnya secara berkala oleh dinas pengairan setempat.
Distribusi air bersih menggunakan mobil tangki akan disiapkan sebagai langkah darurat bagi desa-desa yang mengalami krisis air paling parah.
Kesadaran untuk tidak melakukan pembersihan lahan dengan cara membakar menjadi faktor krusial dalam menjaga kelestarian ekosistem di tengah terpaan panas yang menyengat