Logo Mirip Louis Vuitton, Bisnis Minuman China Kena Sanksi Denda

Kamis, 09 Juli 2026 | 15:41:51 WIB
Pengadilan Suzhou memutuskan Molly Tea melanggar merek dagang Louis Vuitton. (Sumber Foto: NET)

BEIJING - Badan peradilan di wilayah timur China, Suzhou, memvonis logo Molly Tea, badan usaha minuman yang berbasis teh melati dan bunga lainnya, sudah melanggar merek dagang monogram punya Louis Vuitton (LV).

Merujuk The Associated Press, Rabu, (8/7/2026), badan usaha tersebut diperintahkan membayar 10,3 juta yuan atau US$ 1,5 juta.

Angka itu setara dengan Rp 27 miliar (asumsi nilai tukar dolar AS terhadap rupiah di angka 18.000) kepada badan usaha Prancis tersebut, menurut informasi media regional.

Media nasional dan pengamat daring di China menanyakan asal-usul desain bunga dengan empat kelopak tersebut.

Mereka menimbang kemungkinan sejarah simbol merek dagang milik Louis Vuitton sebenarnya ialah motif yang sudah ada di China sejak masa lampau.

Sebagian juga mendakwa Louis Vuitton akan monopoli terhadap motif tradisional China.

Putusan terkini ini menjadi perbincangan hangat di media dalam jaringan Negeri Tirai Bambu tersebut.

Perselisihan properti intelektual di antara merek Barat dan China bukanlah hal yang baru.

Merek internasional seperti New Balance, manufaktur sepatu asal Amerika Serikat, telah menggugat firma-firma China ke pengadilan.

Mereka pun terkadang memenangkan kasus properti intelektual dan merek dagang.

Tahun ini, Louis Vuitton merayakan hari ulang tahun ke-130 dari desain monogramnya, terhitung sejak tahun 1896.

Louis Vuitton menyatakan bahwa desain tersebut adalah “simbol kreatifitas universal.”

"Monogram tersebut, lantaran, “terinspirasi dari ornamen neo-gotik dan pengaruh Japonisme,” dikutip dari Sumbernya.

Global Times, media harian berbahasa Inggris di China menyebutkan terdapat “frustasi massal” mengenai merek asing yang menguasai desain yang dipercaya adalah bagian dari warisan budaya China.

Beijing Daily mengatakan pada Selasa, 7 Juli 2026, di Weibo, putusan tersebut mengungkap ketimpangan pada perlindungan warisan budaya dan simbol-simbol China.

“Bagaimana bisa perusahaan China membayar lebih dari 10 juta yuan kepada perusahaan Prancis karena menggunakan desain yang menyerupai pola kuno China?," demikian disebutkan.

Gambar dan narasi yang menyertai artikel tersebut memperlihatkan motif di sebuah "pipa", kecapi tradisional China zaman Dinasti Tang yang terbuat dari rosewood, bersanding dengan motif monogram Louis Vuitton.

LVMH maupun Molly Tea tidak seketika merespons permintaan komentar.

Molly Tea yang didirikan pada 2021 masih memampang logo bunga dengan empat kelopak tersebut pada situs resmi per Selasa.

Badan usaha tersebut mengungkapkan kepada media bahwa mereka akan melayangkan banding.

Terkini