Harga CPO Melonjak Akibat Peningkatan Ekspor dan Harga Minyak

Kamis, 09 Juli 2026 | 15:41:51 WIB
CPO. ( Sumber : NET )

JAKARTA – Nilai kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) meroket pada Rabu (8/7/2026), sesudah sempat melemah pada sesi sebelumnya.

Kenaikan tersebut dipicu oleh penurunan nilai tukar ringgit, peningkatan harga minyak nabati di China serta Amerika Serikat, dan juga membaiknya performa ekspor.

Berdasarkan data BMD pada penutupan Rabu (8/7/2026), kontrak berjangka CPO untuk Juli 2026 naik 20 Ringgit Malaysia menjadi 4.503 Ringgit Malaysia per ton.

Kontrak berjangka CPO Agustus 2026 melonjak 56 Ringgit Malaysia menjadi 4.572 Ringgit Malaysia per ton.

Sementara itu, kontrak berjangka CPO September 2026 melejit 62 Ringgit Malaysia menjadi 4.609 Ringgit Malaysia per ton.

Kontrak berjangka CPO Oktober 2026 melesat 64 Ringgit Malaysia menjadi 4.637 Ringgit Malaysia per ton.

Kontrak berjangka CPO November 2026 terbang 67 Ringgit Malaysia menjadi 4.668 Ringgit Malaysia per ton.

Sedangkan Kontrak berjangka CPO Desember 2026 terkerek 69 Ringgit Malaysia menjadi 4.694 Ringgit Malaysia per ton.

Dilansir dari Sumbernya, data dari lembaga survei kargo menunjukkan pengiriman minyak sawit Malaysia pada periode 1-5 Juli meningkat antara 10,6% hingga 11,1% dibandingkan periode yang sama pada Juni.

Sentimen positif pun hadir dari reli harga minyak mentah dunia.

Serangan udara Amerika Serikat terhadap Iran serta kembali diberlakukannya sanksi terhadap ekspor minyak Iran mendorong harga minyak naik tajam, sehingga meningkatkan daya tarik minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel.

Akan tetapi, kenaikan harga CPO tertahan oleh melemahnya permintaan dari India, konsumen minyak sawit terbesar di dunia.

Impor minyak sawit India pada Juni tercatat turun ke level terendah dalam 14 bulan terakhir akibat permintaan yang lesu serta menyempitnya selisih harga dengan minyak nabati pesaing.

Di sisi lain, pasar pun memperhatikan proyeksi Reuters yang memperkirakan persediaan minyak sawit Malaysia mencapai rekor tertinggi pada Juni, seiring produksi yang tumbuh lebih cepat dibandingkan permintaan.

Pelaku pasar pun cenderung berhati-hati menjelang rilis laporan bulanan dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB) pada pekan ini, yang diperkirakan akan memberikan gambaran terbaru mengenai produksi, ekspor, serta persediaan minyak sawit Malaysia.

Selain itu, investor pun menantikan data inflasi konsumen (CPI) serta inflasi produsen (PPI) China untuk Juni.

Data dari salah satu pembeli utama minyak sawit tersebut akan menjadi petunjuk baru mengenai prospek permintaan CPO ke depan.

Terkini