KRL hingga Whoosh Jadi Andalan KAI Kurangi Emisi Karbon

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:03:27 WIB
Ilustrasi KRL Buatan INKA yang akan dioperasikan di lintas KRL Jabodetabek. (Sumber Foto: suara.com)

JAKARTA - PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menetapkan elektrifikasi jalur kereta sebagai salah satu strategi inti untuk mengurangi emisi karbon serta mendukung pencapaian target Net Zero Emission (NZE) Indonesia pada tahun 2060.

Langkah tersebut menjadi bagian dari Strategi Net Zero Emission yang disusun KAI sebagai upaya jangka panjang untuk mengurangi emisi di sektor transportasi sekaligus mendukung agenda transisi energi nasional. 

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengatakan penyusunan strategi tersebut sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 mengenai mitigasi perubahan iklim di sektor transportasi.

"Melalui strategi tersebut, KAI menetapkan empat arah utama pengurangan emisi, yaitu elektrifikasi jalur rel, peningkatan efisiensi operasional, pemanfaatan energi yang lebih bersih, serta penyerapan karbon melalui program penghijauan," ujar Anne di Jakarta, Kamis (11/6/2026).

Menurut Anne, elektrifikasi menjadi fokus utama karena kereta api merupakan moda transportasi dengan tingkat emisi yang relatif rendah dibandingkan moda lainnya. Berdasarkan kajian yang dipaparkan dalam kegiatan Towards a Green Rail Future: Delivering a Decarbonized Railway in Indonesia, sektor perkeretaapian hanya menyumbang sekitar 1 persen dari total emisi gas rumah kaca sektor transportasi nasional. Sebaliknya, kendaraan darat berkontribusi sekitar 89 persen terhadap total emisi di sektor tersebut.

Anne menilai transportasi berbasis rel memiliki posisi strategis dalam mendukung mobilitas masyarakat sekaligus menekan emisi karbon.

"Kereta api memiliki keunggulan dari sisi efisiensi energi dan emisi. Melalui Strategi Net Zer Emission, KAI menyiapkan langkah jangka panjang agar pengembangan layanan perkeretaapian selaras dengan target transisi energi nasional serta kebutuhan mobilitas masyarakat yang terus berkembang," ucap Anne.

Sebagai bagian dari strategi tersebut, KAI terus memperluas penggunaan tenaga listrik pada layanan perkeretaapian. 

Saat ini, panjang jalur rel yang telah terelektrifikasi mencapai 1.038,7 kilometer. Jalur tersebut mencakup berbagai layanan berbasis listrik seperti KRL Commuter Line, LRT Jabodebek, hingga kereta cepat Whoosh.

Selain itu, KAI terus meningkatkan penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan. Penggunaan biodiesel, misalnya, telah berkembang dari B0 pada 2017 menjadi B40 pada 2025 dan ditargetkan meningkat menjadi B50 pada 2026. 

Perusahaan juga memanfaatkan energi surya melalui pemasangan panel surya dengan kapasitas total 3.435,5 kWp yang tersebar di 66 lokasi operasional.

Di sisi lain, upaya penyerapan karbon dilakukan melalui program penghijauan. Sepanjang 2021 hingga 2025, KAI telah menanam 107.757 pohon di berbagai wilayah operasional.

"Sepanjang 2021 hingga 2025, KAI telah menanam 107.757 pohon di berbagai wilayah operasional sebagai bagian dari penyerapan karbon," lanjut Anne.

Sementara itu, Vice President of Sustainability KAI, Tria Mutiari Melian, menjelaskan KAI memiliki peran penting dalam mendukung agenda dekarbonisasi sektor transportasi nasional. Sebagai tulang punggung transportasi massal nasional, KAI dinilai memiliki posisi strategis dalam mendorong transisi menuju ekonomi rendah karbon.

"Kajian dan rekomendasi yang dihasilkan akan diselaraskan dengan pengembangan kebijakan dan peta jalan dekarbonisasi sektor transportasi nasional dalam jangka panjang," ujar Tria.

Tria mengungkapkan kajian yang disusun bersama UK Partnering for Accelerated Climate Transition (UK PACT) dan Kynergy Consulting menunjukkan moda transportasi berbasis rel memiliki tingkat emisi yang relatif rendah dibandingkan moda transportasi lainnya. 

Berdasarkan kajian tersebut, LRT Jabodebek menghasilkan emisi sekitar 15 gram CO2-eq per penumpang-kilometer. Sementara itu, KA Antarkota menghasilkan emisi sekitar 16,43 gram CO2-eq per penumpang-kilometer dan KRL Commuter Line sebesar 34,03 gram CO2-eq per penumpang-kilometer.

Menurut Tria, dukungan UK PACT dan Kynergy Consulting juga berperan dalam penyusunan berbagai langkah strategis untuk mempercepat dekarbonisasi sektor perkeretaapian nasional.

"Dukungan UK PACT dan Kynergy Consulting dalam penyusunan strategi ini mencakup kajian implementasi B50, analisis percepatan transisi KRD menuju KRL dan modernisasi sistem persinyalan, serta pengembangan instrumen pembiayaan yang membuka peluang akses terhadap berbagai sumber pembiayaan hijau internasional," pungkasnya.

Terkini