Deretan Saham Big Caps yang Sedang Diskon, Ada BBRI hingga ANTM

Deretan Saham Big Caps yang Sedang Diskon, Ada BBRI hingga ANTM
Saham BBRI dan BMRI diperdagangkan di bawah rata-rata historis dengan potensi perbaikan nilai. (Sumber Foto: NET)

JAKARTA - Beberapa saham berkapitalisasi jumbo di Bursa Efek Indonesia (BEI) saat ini ditransaksikan pada angka penilaian yang lebih kecil dibanding rata-rata masa lalunya.

Situasi tersebut menciptakan potensi terjadinya penyesuaian harga kembali jika didorong oleh penguatan fundamental perusahaan serta kondisi makroekonomi.

Para analis mengamati bahwa sejumlah saham unggulan yang dianggap masih dalam kategori "diskon" memiliki potensi mencatatkan peningkatan nilai di periode mendatang.

Senior Market Analyst dari Sumbernya, Nafan Aji Gusta, menyatakan cukup banyak saham berkapitalisasi besar di pasar modal yang kini diperdagangkan di bawah rata-rata penilaian historisnya, khususnya pada bidang perbankan, telekomunikasi, komoditas tertentu, serta kebutuhan pokok konsumen.

Penyusutan harga saham yang terjadi beberapa bulan terakhir telah membawa rasio price to earnings (PER) dan price to book value (PBV) beberapa emiten ke level bawah rentang historis dalam 5-10 tahun terakhir.

“Koreksi harga saham dalam beberapa bulan terakhir membuat PER maupun PBV sejumlah emiten turun ke kisaran bawah historical band 5-10 tahun,” ujar Nafan saat dihubungi dari Sumbernya, Senin malam (6/7/2026).

Meskipun demikian, tidak seluruh saham yang ditransaksikan pada penilaian rendah dapat dimasukkan ke dalam kelompok salah harga atau di bawah nilai wajarnya.

Menurutnya, sebagian diskon tersebut merupakan imbas dari melambatnya kenaikan laba perusahaan, meningkatnya biaya ekuitas seiring suku bunga global yang masih tinggi, serta naiknya premi risiko Indonesia yang membuat investor menuntut imbal hasil lebih besar.

“Sebagian memang merupakan konsekuensi dari perlambatan pertumbuhan laba, meningkatnya cost of equity akibat suku bunga global yang masih tinggi, serta meningkatnya risk premium Indonesia,” paparnya.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) kini diperdagangkan pada price to book value (PBV) di kisaran 2,2-2,5 kali, lebih rendah dari rata-rata historisnya yang berada pada rentang 2,8-3,3 kali.

Peluang perbaikan nilai saham BBRI diproyeksikan bakal terdorong oleh penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate), pemulihan distribusi kredit untuk segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta stabilisasi kualitas aset perusahaan.

Kemudian, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga ditransaksikan pada PBV sekitar 1,8-2,0 kali, lebih rendah dibanding rata-rata historisnya di kisaran 2,2–2,5 kali.

Potensi peningkatan penilaian BMRI didukung oleh kenaikan kredit korporasi yang berkelanjutan, serta penurunan biaya dana yang berpeluang memperkuat profitabilitas perusahaan.

Pada sektor telekomunikasi, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) diperdagangkan pada rasio EV/EBITDA sekitar 4-5 kali, lebih rendah dari rata-rata historisnya yang berada di kisaran 5,5-6 kali.

Potensi penguatan nilai TLKM dinilai bersumber dari monetisasi usaha data center, kenaikan efisiensi operasional Telkomsel, serta daya tarik imbal hasil dividen yang tetap tinggi.

Sementara itu, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) juga ditransaksikan pada rasio EV/EBITDA yang berada di bawah rata-rata historis siklus komoditasnya.

Nafan menjelaskan, secara historis saham INCO memperoleh penilaian premium ketika harga nikel berada pada level tinggi.

Maka dari itu, pemulihan harga nikel global dan kenaikan produksi smelter diprediksi menjadi penggerak utama yang dapat mendorong kenaikan nilai perusahaan.

Sedangkan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) diperdagangkan pada price to earnings ratio (PER) di kisaran belasan kali, lebih rendah dibanding rata-rata historisnya yang mendekati 18–20 kali.

Peluang perbaikan nilai ICBP bakal bergantung pada pemulihan daya beli masyarakat yang mampu mendorong peningkatan jumlah penjualan dan memperkuat kemajuan kinerja perusahaan.

Senada, Investment Specialist dari Sumbernya, Ahmad Faris Mu’tashim, menyebut secara penilaian banyak perusahaan yang ditransaksikan pada level lebih kecil dibanding rata-rata penilaian historisnya.

Kondisi tersebut menggambarkan adanya peluang penanaman modal pada beberapa sektor, walaupun investor tetap perlu mengamati pemicu yang dapat mendorong kenaikan harga saham.

Faris memandang bidang komoditas, terutama emas, menjadi salah satu area yang menarik untuk dicermati.

Prospek tersebut ditopang oleh makin kecilnya peluang bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), untuk kembali menaikkan suku bunga.

Hal tersebut membuat biaya peluang memegang emas sebagai instrumen lindung nilai menjadi semakin kecil, terutama di tengah melemahnya dolar AS terhadap mata uang utama dunia yang terlihat dari penurunan indeks dolar AS (DXY).

Dengan latar belakang tersebut, Faris menyarankan investor untuk memperhatikan saham-saham di bidang emas, terutama PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), yang dianggap berpeluang mendapatkan sentimen positif jika tren pelemahan dolar AS dan meningkatnya minat terhadap aset lindung nilai terus berlanjut.

“Hal ini tidak lepas dari mengecilnya potensi The Fed untuk menaikan suku bunga, yang membuat opportunity cost untuk memilih emas sebagai hedging dari turunnya mata uang dollar AS terhadap major currency yang terlihat dari melemahnya pergerakan DXY. Saham yang bisa diperhatikan di sektor ini adalah ANTM dan HRTA,” pungkas Faris kepada dari Sumbernya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index