JAKARTA — Para pakar lingkungan menyatakan bahwa Piala Dunia musim panas ini akan menjadi turnamen dengan pemasukan finansial terbesar sepanjang sejarah. Namun, ajang tersebut juga diprediksi bakal mencatatkan rekor sebagai perhelatan olahraga dengan dampak polusi tertinggi terhadap bumi.
"Berbeda dengan Olimpiade, di mana jejak karbon mereka terus berkurang dalam beberapa pelaksanaan terakhir, kondisi pada Piala Dunia pria FIFA justru terbalik total," kata David Gogishvili, seorang ahli geografi di Universitas Lausanne (Unil), dikutip dari Phys, Jumat (22/5/2026).
Turnamen kali ini menjadi edisi pertama yang melibatkan 48 tim serta diselenggarakan di tiga negara sekaligus, yakni Meksiko, Kanada, dan Amerika Serikat.
Meski menjanjikan profit finansial yang luar biasa, riset Unil menunjukkan turnamen ini akan menciptakan jejak karbon terbesar dalam sejarah olahraga internasional. Emisi karbon (CO2) diprediksi menyentuh angka 5 hingga 9 juta ton, jauh melampaui Olimpiade Paris 2024 (1,75 juta ton), Piala Dunia Rusia 2018 (2,17 juta ton), maupun Piala Dunia Qatar 2022 (3,17 juta ton).
Penyebab utama polusi ini adalah jarak antar-kota yang sangat jauh, seperti rute Miami ke Vancouver yang mencapai 4.500 kilometer. Hal ini meningkatkan polusi akibat frekuensi penerbangan yang digunakan oleh tim, panitia, media, dan lebih dari lima juta suporter.
Sebagai contoh, tim Bosnia dan Herzegovina harus menempuh jarak 5.040 kilometer hanya untuk babak penyisihan grup di Toronto, Los Angeles, dan Seattle.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, sebelumnya sempat menjanjikan pengurangan polusi pada ajang Piala Dunia. Namun, setelah mendapat teguran dari Komisi Keadilan Swiss (CSL) pada Juni 2023 terkait klaim "bebas polusi" pada Piala Dunia Qatar 2022 yang terbukti tidak akurat, FIFA kini tidak lagi memberikan jaminan terkait dampak lingkungan.
Para ahli menyarankan pembatasan skala turnamen guna menekan dampak buruk, seperti yang diterapkan Komite Olimpiade Internasional. Namun, FIFA justru memperluas skala kompetisi. Berdasarkan laporan New Weather Institute tahun 2025, satu pertandingan internasional memiliki dampak iklim 26 hingga 42 kali lipat lebih besar dibandingkan pertandingan domestik.
"Satu pertandingan saja di babak final Piala Dunia pria menghasilkan 44.000 hingga 72,000 ton karbon," kata para penulis laporan tersebut dari lembaga Scientists for Global Responsibility di Inggris.
"Nafsu FIFA yang tidak pernah kenyang untuk terus memperbesar turnamen menyebabkan jumlah pertandingan semakin banyak, dan mau tidak mau membuat makin banyak atlet, makin banyak suporter, makin banyak hotel yang harus dibangun, makin banyak penerbangan pesawat, ini seperti lingkaran setan yang tidak ada habisnya," kata Gogishvili.
Kritik terhadap FIFA kian menguat seiring rencana Piala Dunia 2030 yang akan digelar di tiga benua, serta Piala Dunia 2034 di Arab Saudi yang didukung sponsor perusahaan minyak, Aramco.
"Tampaknya, sikap FIFA yang pura-pura tidak tahu dan tidak peduli terhadap kerusakan lingkungan akan terus berlanjut," tulis Gilles Pache, profesor di Universitas Aix-Marseille, dalam jurnal Journal of Management Research tahun 2024.