CATL dan BYD Kuasai Baterai EV Dunia, India Mulai Mandiri

CATL dan BYD Kuasai Baterai EV Dunia, India Mulai Mandiri
Potongan melintang baterai CATL (FOTO: NET)

INDIA - Industri baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dunia kian menjadi inti dari kompetisi strategis sektor otomotif global.

Seiring dengan semakin tingginya penyerapan kendaraan listrik, para pembuat baterai sekarang memegang peranan yang setara dengan penyuplai mesin serta transmisi pada masa kendaraan bermesin pembakaran internal.

Berdasarkan data dari laporan SNE Research yang dihimpun Auto Punditz, pemanfaatan baterai EV di tingkat global pada tahun 2025 menyentuh angka berkisar 1.187 GWh atau mengalami pertumbuhan sebesar 31,7% secara tahunan (year-on-year).

Sektor ini pun masih didominasi oleh korporasi-korporasi asal Asia, terutama dari Tiongkok.

Dua raksasa terbesar, yaitu CATL dan BYD, bahkan sukses memegang kendali atas lebih dari separuh total instalasi baterai EV di seluruh dunia sepanjang tahun kemarin.

CATL tetap kokoh memimpin pasar dunia dengan jumlah instalasi baterai yang mencapai 464,7 GWh serta mengantongi pangsa pasar sebesar 39,2% pada tahun 2025.

Capaian ini menempatkan CATL sebagai satu-satunya manufaktur baterai yang memiliki pangsa pasar di atas angka 30%.

Kekuatan utama CATL bersumber dari dominasi mereka di pasar domestik Tiongkok, kawasan Eropa, dan bermacam platform kendaraan listrik global.

Bukan hanya itu, keunggulan mereka dalam urusan teknologi baterai Lithium Iron Phosphate (LFP) menjadikan CATL sanggup menjaga jarak kompetisi dari para rival asal Korea Selatan dan Jepang.

Di waktu yang sama, BYD berada di peringkat kedua dengan catatan instalasi baterai mencapai 194,8 GWh serta kepemilikan pangsa pasar sebesar 16,4%.

Berbeda halnya dengan CATL, BYD mempunyai kelebihan berupa integrasi vertikal lantaran mereka juga berstatus sebagai salah satu produsen EV terbesar di dunia saat ini.

Pola strategi tersebut mempermudah BYD untuk mengontrol ongkos produksi, memastikan keamanan pasokan baterai, sekaligus mengakselerasi ekspansi kendaraan listrik mereka ke kancah global.

Secara akumulatif, gabungan dari CATL dan BYD membukukan angka instalasi baterai sebesar 659,5 GWh atau setara dengan menguasai 55,6% porsi pasar baterai EV dunia pada tahun 2025.

Keunggulan Tiongkok pun kian kentara lewat daftar 10 besar produsen baterai EV di tingkat dunia.

Ada EMU korporasi yang berasal dari Negeri Tirai Bambu tersebut, antara lain CATL, BYD, CALB, Gotion High-Tech, EVE Energy, serta Svolt.

Merujuk pada laporan yang sama, dominasi Tiongkok dibentuk oleh skala produksi yang masif, sistem biaya yang jauh lebih ekonomis, tingginya angka permintaan EV di pasar domestik, hingga percepatan penerapan teknologi baterai LFP yang dipandang lebih murah sekaligus aman bagi kendaraan listrik segmen pasar massal (mass market).

Pada sudut pandang lain, para pemain asal Korea Selatan dan Jepang masih mempertahankan peran krusial mereka dalam kancah industri global.

LG Energy Solution bertahan menjadi produsen non-Tiongkok terbesar lewat instalasi baterai sebanyak 108,8 GWh dengan kepemilikan pangsa pasar 9,2%.

Nama-nama seperti SK On, Samsung SDI, dan Panasonic juga tetap bertahan di dalam jajaran 10 besar dunia.

Walau demikian, tekanan yang mengarah kepada perusahaan-perusahaan Korea Selatan dan Jepang kian berat lantaran produsen asal Tiongkok dinilai tampil lebih agresif dalam melakukan ekspansi serta menawarkan opsi solusi yang jauh lebih kompetitif dari segi pendanaan.

Sementara situasi itu terjadi, India kini mulai memacu langkah pembangunan ekosistem baterai EV di dalam negeri mereka sendiri.

Walaupun sekarang ini kondisinya masih amat bergantung pada jalur impor sel baterai asal Tiongkok maupun negara-negara Asia lainnya, India mulai menggalakkan lokalisasi manufaktur lithium-ion lewat beragam kucuran investasi anyar.

Pemerintah India ikut menyokong strategi tersebut melalui program skema Production Linked Incentive (PLI) untuk Advanced Chemistry Cell (ACC) battery storage.

Agenda besar itu melibatkan sejumlah korporasi seperti Reliance New Energy Solar, Ola Electric Mobility, Hyundai Global Motors, hingga Rajesh Exports.

Bebapa pelaku usaha yang kini mulai dipandang sebagai pilar utama industri baterai EV di India di antaranya adalah Tata Agratas, Ola Electric, Reliance New Energy, Exide Energy Solutions, sampai Amara Raja Energy & Mobility.

Tata Agratas, sebagai contoh, memiliki rencana untuk mendirikan pabrik sel lithium-ion dengan daya tampung kapasitas sebesar 20 GWh di Gujarat demi menyokong kebutuhan unit kendaraan listrik serta penyimpanan energi.

Sedangkan Ola Electric tengah sibuk menggarap fasilitas produksi sel baterai di wilayah Tamil Nadu sekaligus memperkenalkan produk 4680 Bharat Cell hasil rakitan lokal.

Isi laporan itu memaparkan bahwa India sejatinya memang masih berada di level tahapan awal dalam peta industri manufaktur sel baterai EV.

Banyak pelaku usaha lokal di sana saat ini yang masih menaruh fokus pada sektor perakitan battery pack saja, padahal nilai strategis yang paling bernilai tinggi sejatinya terletak pada lini produksi sel baterai.

Akan tetapi, kepakan sayap dari perusahaan-perusahaan besar seperti Tata Agratas, Ola, Reliance, Exide, dan Amara Raja dipandang sebagai sebuah pertanda kuat bahwa India kini mulai melangkah menuju proses lokalisasi industri baterai EV yang jauh lebih mendalam.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index