Climate Group Soroti Kendala Investasi Energi Terbarukan di RI

Climate Group Soroti Kendala Investasi Energi Terbarukan di RI
Climate Group: Indonesia Berpeluang Percepat Energi Terbarukan Melalui RE100. (Sumber Foto: NET)

SEMARANG – Kementerian ESDM mencatat realisasi bauran energi baru dan terbarukan (EBT) sepanjang tahun 2025 berada di angka 15,75 persen atau naik 1,1 persen dari tahun sebelumnya, dengan total kapasitas terpasang pembangkit listrik berbasis EBT menyentuh 15.630 Megawatt (MW). 

Direktur Energi Climate Group, Sam Kimmins, menilai kawasan industri di Indonesia memiliki minat tinggi terhadap pemanfaatan energi terbarukan, kendati pelaksanaannya masih terhambat faktor biaya dan regulasi pemerintah.

Menurutnya, tingginya harga energi terbarukan di Indonesia disebabkan oleh lingkungan kebijakan yang belum memfasilitasi investasi langsung perusahaan ke proyek energi bersih. Hal itu mempersulit pengembang dalam mendapatkan modal dengan bunga rendah sehingga harga listrik energi terbarukan tetap tinggi. 

“Alasan mengapa energi terbarukan lebih mahal daripada seharusnya adalah karena lingkungan kebijakan. Jika Anda tidak bisa mendapatkan investasi langsung dari perusahaan, sulit untuk menurunkan harga,” kata Kimmins saat ditemui di sela-sela agenda Climate Group Asia Action Summit di Singapura pada Kamis, 21 Mei 2026.

Dia menyatakan bahwa Climate Group berupaya mendorong transformasi kondisi tersebut melalui pengembangan kawasan industri berbasis energi terbarukan. 

Mengingat, permintaan listrik hijau di sektor industri terus tumbuh seiring kebutuhan ekspor dan rantai pasok global, termasuk adanya aturan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) di Eropa.

Kimmins mengungkapkan bahwa penggunaan energi terbarukan mampu meningkatkan daya tarik kawasan industri Indonesia bagi korporasi global, seperti Nike, Adidas, dan New Balance serta para pemasok mereka. 

Ia menjelaskan, banyak pemasok di Indonesia melayani berbagai merek secara bergantian sehingga sulit untuk membangun infrastruktur energi terbarukan secara mandiri. 

Menurutnya, pengembangan energi terbarukan di tingkat kawasan industri dapat menjadi solusi karena perusahaan hanya perlu membeli listrik hijau yang telah disiapkan pengelola kawasan.

Sam juga mengulas kemajuan kampanye RE100 di berbagai negara. Menurutnya, keberhasilan kerap diawali saat satu perusahaan lokal bergabung, kemudian diikuti oleh perusahaan lain yang menyadari bahwa transisi energi bersih adalah hal yang mungkin dilakukan. 

Ia menuturkan, saat ini terdapat 122 perusahaan anggota RE100 yang membeli listrik energi terbarukan di Indonesia. Kehadiran perusahaan multinasional tersebut diharapkan membantu transfer pengetahuan kepada pelaku usaha lokal mengenai cara pembelian listrik energi terbarukan serta membangun rantai pasok rendah emisi.

Selain itu, Kimmins mengapresiasi target pemerintah Indonesia membangun 100 gigawatt energi terbarukan sebagai sinyal positif bagi investor. Ia menekankan bahwa perusahaan memerlukan kepastian bahwa pemerintah responsif terhadap kebutuhan pasar. 

Sebagai contoh, keputusan LEGO membangun fasilitas di Vietnam dipengaruhi oleh tersedianya mekanisme perjanjian pembelian listrik di negara tersebut. Ia menegaskan bahwa akses terhadap listrik bersih kini menjadi faktor krusial dalam keputusan investasi global, sehingga pemerintah perlu sigap agar Indonesia tetap kompetitif. 

Meski demikian, ia menilai pemerintah Indonesia menunjukkan keterbukaan dalam berdialog dan memiliki kemauan untuk mendorong perubahan, walaupun reformasi pasar energi yang telah lama bergantung pada bahan bakar fosil bukan perkara mudah.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index