JAKARTA - Tekanan biaya operasional mendorong para pelaku industri pertambangan untuk mulai mencari strategi dalam menghemat penggunaan bahan bakar di area kerja.
Pemanfaatan alat berat yang tidak hemat solar sekarang menjadi salah satu kendala utama di tengah situasi global yang tidak menentu serta fluktuasi pada industri mineral dan batu bara.
PT Andalan Artha Primanusa (Andalan) menjadi salah satu korporasi yang mulai mempercepat proses pembaruan armada alat berat guna mendongkrak efisiensi energi pada operasional tambang.
Kebijakan tersebut dianggap krusial untuk mempertahankan produktivitas sekaligus memangkas pengeluaran operasional perusahaan.
Direktur Utama PT Andalan Artha Primanusa, Gahari Christine, mengungkapkan bahwa industri pertambangan saat ini tengah menghadapi tantangan yang tidak mudah imbas kondisi geopolitik global serta melonjaknya pengeluaran operasional di area tambang.
Oleh sebab itu, menurut dia, perusahaan tambang diharuskan lebih adaptif dalam mempertahankan efisiensi operasional tanpa menurunkan produktivitas.
“Peremajaan armada baru terbukti membantu meningkatkan efisiensi konsumsi bahan bakar,” ujar Gahari dalam keterangan, Selasa (19/5/2026).
Bukan hanya memperbarui armada, perusahaan kini juga lebih selektif dalam mengambil proyek baru demi menjaga stabilitas bisnis di tengah situasi industri yang naik-turun.
Di tengah himpitan tersebut, Andalan tetap berhasil menorehkan performa positif pada tahun 2025.
Perusahaan berhasil mencetak margin EBITDA sebesar 39 persen dengan perolehan Rp145,4 miliar, walaupun industri pertambangan sempat terhambat oleh cuaca ekstrem dan kendala operasional.
Tidak cuma berfokus di sektor batu bara, perusahaan pun mulai melebarkan sayap ke sektor tambang nikel usai mendapatkan proyek di Halmahera Timur, Maluku Utara.
Strategi ini diterapkan untuk menjangkau pasar yang lebih luas sekaligus menjaga keberlangsungan bisnis di tengah pergeseran industri energi dan pertambangan.