Target Lifting Migas Naik, Saham ELSA Berpotensi Melesat 58 Persen

Target Lifting Migas Naik, Saham ELSA Berpotensi Melesat 58 Persen
Saham ELSA Direkomendasikan Beli Target Rp1.110. ( Sumber ; NET )

JAKARTA - Emiten PT Elnusa Tbk (ELSA) dipandang menempati area yang sangat strategis dalam meraup peluang dari tren kebangkitan aktivitas sektor hulu migas di tanah air, seirama dengan target masif pemerintah guna memacu kapasitas lifting minyak hingga menyentuh kisaran 900 ribu sampai 1 juta barel per hari pada periode 2028–2029. 

Target besar yang dicanangkan pemerintah tersebut melandasi keputusan dari BRI Danareksa Sekuritas untuk menyematkan rekomendasi beli bagi saham ELSA dengan target harga berada di level Rp1.110. 

Bila mengacu pada harga penutupan yang bertengger di angka Rp700, maka potensi penguatan atau ruang apresiasi untuk harga saham ini dinilai masih terbuka lebar hingga menyentuh angka 58%.

Nilai estimasi target harga tersebut mencerminkan ekspektasi akselerasi kinerja keuangan ELSA yang kokoh ke depan, yang ditopang oleh kepemilikan buku kontrak (order book) yang tebal, tingkat keterpakaian (utilisasi) aset yang optimal, serta prospek perluasan usaha lewat skema KSO/LCO dan rencana akuisisi PDSI.

Analis dari BRI Danareksa Sekuritas, Naura Reyhan Muchlis bersama Andhika Audrey menjabarkan bahwa perolehan laba bersih ELSA pada tahun 2026 diestimasikan mampu tumbuh sebesar 32% secara tahunan (year on year), disokong oleh pemulihan di sektor hulu migas yang diperkirakan sanggup mengatrol pendapatan hingga 11% secara tahunan.

“Target pemerintah untuk meningkatkan lifting minyak akan menjadi fondasi pertumbuhan jangka panjang bagi industri jasa migas, seperti peningkatan aktivitas workover, well intervention, drilling support, seismic, enhanced oil recovery (EOR/IOR), hingga fracturing,” tulis riset tersebut.

Sinyal percepatan pertumbuhan yang kilat ini sejatinya sudah mulai kelihatan dari peningkatan intensitas pengeboran sumur pengembangan secara nasional, yang mengalami kenaikan sebesar 9,1% secara tahunan menjadi sebanyak 980 sumur pada tahun 2025. 

Bagi ELSA sendiri, cerahnya prospek tersebut sudah terefleksi dari nilai order book yang telah mengemas Rp4,1 triliun per kuartal I-2026.

Tingkat utilisasi aset pada lini bisnis hulu migas perusahaan juga dipandang berada dalam kondisi yang kuat, di mana sebanyak 13 unit workover/HWU telah memperoleh kontrak penuh, lima unit cementing telah beroperasi secara aktif, serta adanya sokongan dari bisnis survei seismik pada proyek Tedong ditambah potensi 4 hingga 6 proyek survei baru di sepanjang tahun 2026.

 Di samping hal tersebut, analis menguraikan bahwa status ELSA selaku anak usaha dari PT Pertamina Hulu Energi (PHE) dengan porsi kepemilikan saham sebesar 51,1%, membuat perseroan mengantongi kepastian pendapatan yang sangat kuat melalui bisnis yang berkelanjutan (recurring business) di dalam ekosistem hulu maupun hilir Pertamina.

Di waktu yang bersamaan, langkah diversifikasi pendapatan perusahaan juga memperlihatkan tren yang kian menanjak. 

Porsi kontribusi dari pihak ketiga terhadap total pendapatan korporasi tercatat mengalami kenaikan menjadi 23% pada kuartal I-2026, jika dikomparasikan dengan perolehan pada tahun 2025 yang sebesar 21,6%.

Pihak BRI Danareksa Sekuritas mengemukakan bahwa faktor pendorong (katalis) penting lainnya bagi pergerakan saham ELSA bersumber dari peluang besarnya untuk merambah bisnis pengelolaan lapangan minyak dan gas melalui skema KSO/LCO.

 Perusahaan dikabarkan tengah membidik sekitar 3 sampai 4 konsesi milik PHE dari total sekitar 41 konsesi yang saat ini statusnya belum dikembangkan, dengan fokus utama di wilayah Jawa Timur.

“Masuknya ELSA ke skema KSO/LCO dinilai berpotensi mengubah model bisnis perseroan dari sekadar contractor jasa menjadi operator jasa terintegrasi dengan margin lebih tinggi. Sekular 60–70% ruang lingkup pekerjaan disebut dapat diserap ke dalam ekosistem jasa milik ELSA sendiri,” tulisnya.

Langkah ekspansi Elnusa (ELSA) juga disebut-sebut mendapat sokongan dari adanya rencana potensial untuk mengakuisisi PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI), yang digadang-gadang dapat menjadi mesin pertumbuhan ekstra bagi perseroan.

 Proses akuisisi ini dinilai bakal memperkokoh kapasitas dan kapabilitas ELSA di sektor hulu berkat adanya tambahan armada rig pengeboran serta workover yang sifatnya captive (pasar internal yang pasti).

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index