BRIN: Laut Dalam Jadi Penyimpan Panas dan Pengatur Karbon Bumi

BRIN: Laut Dalam Jadi Penyimpan Panas dan Pengatur Karbon Bumi
Ilustrasi Laut Dalam. (Sumber Foto:NET)

JAKARTA – Kepala Pusat Riset Laut Dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. A’an Johan Wahyudi, mengemukakan bahwa laut dalam memegang fungsi vital tidak sekadar bagi sirkulasi global, namun juga sebagai lokasi penyimpanan energi panas sekaligus pengatur siklus karbon bumi. 

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki wilayah perairan yang sangat luas, meski mayoritas area laut dalamnya masih belum dipetakan secara mendalam.

“Laut dalam bukan hanya ruang geografis yang jauh dari permukaan, melainkan juga sistem yang sangat aktif secara fisik, kimia, dan biologis,” kata Prof. A’an, dalam kegiatan Deep-Sea Science Forum ke-3 dengan tema “Mengungkap Misteri Laut Nusantara” pada Selasa (5/5) di Jakarta.

Oleh karena itu, menurut A’an, riset mengenai laut dalam memiliki nilai strategis yang krusial bagi Indonesia. 

Dalam forum tersebut, Gerry Gilliant Salamena yang berasal dari Pusat Riset Laut Dalam BRIN memaparkan fenomena yang masih jarang diperbincangkan dalam konteks perairan nasional, yakni tidal intrusion fronts.

“Fenomena ini merupakan hasil interaksi kompleks dinamika fluida laut yang melibatkan kompetisi antara proses adveksi (pergerakan massa air) dan kecepatan rambat gelombang internal pada sistem laut berlapis densitas, terutama di wilayah penyempitan seperti selat atau kanal dangkal,” kata Gerry. 

Secara teoritis, fenomena tersebut sangat berkaitan dengan parameter Bilangan Froude yang digunakan untuk menggambarkan keseimbangan antara laju aliran dan kecepatan gelombang internal.

“Dalam konteks tidal fronts, nilai Froude menjadi indikator penting dalam menentukan terbentuknya front, yang umumnya terjadi ketika nilai mencapai ambang sekitar ? 0,3, menandakan kondisi aliran yang lebih kritis,” ujarnya.

Gejala ini muncul ketika massa air dengan densitas tinggi masuk dan berinteraksi dengan massa air yang densitasnya lebih rendah, sehingga menimbulkan batas jelas yang disebut front

Dalam lingkup Indonesia, mekanisme ini dipengaruhi oleh intrusi massa air hasil upwelling di Laut Banda yang berinteraksi di area selat yang sempit.

Efeknya tergolong besar, terutama terhadap persebaran partikel laut. Berbagai elemen seperti plankton, larva ikan, hingga sampah laut memiliki kecenderungan untuk terakumulasi di sekitar wilayah front tersebut. 

Di samping itu, menurut Gerry, fenomena ini pun berpengaruh pada percampuran massa air, penyebaran nutrisi, serta dinamika ekosistem laut secara menyeluruh.

Dinamika laut dalam di Indonesia, mulai dari masuknya massa air hingga sistem sirkulasi seperti yang terjadi di Laut Sulawesi, menjadi poin penting lainnya. Laut Sulawesi merupakan salah satu titik kunci dalam sistem sirkulasi laut dunia, terutama pada jalur Arus Lintas Indonesia (Arlindo).

Berdasarkan penjelasan Prof. Agus Saleh Atmadipoera dari IPB University, massa air asal Samudra Pasifik yang mengalir ke Indonesia melalui Laut Sulawesi tidak bergerak secara lurus, namun mengalami pembelokan, percabangan, serta resirkulasi sebelum menuju ke Selat Makassar. 

Karakteristik ini memperlihatkan kerumitan sistem sirkulasi yang dipengaruhi oleh bentuk dasar laut serta interaksi arus regional, ungkap Prof. Agus. 

Munculnya pusaran arus (eddy) di daerah ini juga mendorong proses upwelling dan downwelling yang memiliki peran kunci dalam distribusi nutrisi serta produktivitas biologis laut.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index