Teknologi Digital PLN EPI Perkuat Transisi Energi lewat Biomassa

Teknologi Digital PLN EPI Perkuat Transisi Energi lewat Biomassa
TRANSISI ENERGI ( Sumber : NET )

JAKARTA - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) berkolaborasi dengan PT PLN (Persero) melakukan langkah modernisasi di sektor pembibitan tanaman biomassa melalui pemanfaatan teknologi digital.

 Upaya ini dilakukan guna menyokong program transisi energi, mereduksi emisi, serta memberikan efek positif bagi pertumbuhan ekonomi daerah.

Inisiatif tersebut dijalankan lewat skema program Electrifying Agriculture, yang salah satunya telah diterapkan di Kelurahan Gombang, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebagai informasi, biomassa merupakan sumber energi dari bahan organik terbarukan yang berasal dari organisme hidup, meliputi tumbuhan, hewan, maupun mikroorganisme.

“Program ini dirancang untuk mendorong modernisasi sektor pembibitan berbasis masyarakat melalui pemanfaatan energi listrik dan teknologi digital sehingga lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan,” kata Sekretaris Perusahaan PT PLN Energi Primer Indonesia, Mamit Setiawan, Sabtu (9/5/2026).

Mamit memaparkan bahwa pemakaian sistem penyiraman otomatis yang berlandaskan Internet of Things (IoT) membuat proses perawatan bibit terjadwal secara akurat dan dapat dikendalikan lewat ponsel. 

Teknologi ini diklaim bisa mengoptimalkan pemakaian air, mengurangi beban kerja manual, serta memastikan mutu bibit yang diproduksi.

PLN EPI saat ini tengah berkonsentrasi mengembangkan rumah pembibitan untuk tanaman energi jenis indigofera dan kaliandra yang akan dipakai sebagai bahan campuran batu bara dalam sistem cofiring PLTU.

 "Program ini juga berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca sekaligus mendukung ketahanan energi nasional," terangnya.

Fasilitas rumah bibit tersebut dioperasikan oleh Gapoktan Tani Mulya dengan sokongan instalasi listrik, sistem penyiraman digital, hingga pelatihan mengenai tata kelola rumah bibit modern. 

Panewu Kapanewon Ponjong, Asih Tri Wahyuni berpendapat bahwa program ini sangat relevan dengan karakteristik lahan di Gunungkidul yang cenderung kering dan kritis sehingga memerlukan sentuhan inovasi pertanian.

“Pendampingannya tidak hanya berhenti pada program, tetapi juga sampai masyarakat mampu mandiri mengelola rumah bibit,” ungkapnya.

Menurut Asih, masyarakat sudah mulai merasakan manfaat nyata dari program ini.

 Selain untuk kebutuhan energi, daun tanaman indigofera juga digunakan oleh warga setempat sebagai bahan pewarna alami dalam pembuatan kerajinan eco print.

Di sisi lain, Manager PLN UP3 Jogja dan Wonosari, Agung Pratomo, memandang bahwa pengembangan biomassa yang melibatkan masyarakat merupakan model kolaborasi ideal demi menjaga keberlanjutan energi nasional.

 “Tanaman energi ini nantinya digunakan sebagai campuran bahan bakar batubara di PLTU melalui cofiring.

 Jadi masyarakat ikut berkontribusi dalam menjaga keberlanjutan energi,” pungkasnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index