JAKARTA – CEO Spora EV memaparkan strategi pengelolaan limbah baterai EV agar tidak mencemari lingkungan sekaligus mendukung ekonomi sirkular di industri otomotif nasional.
Langkah ini menjadi perhatian serius seiring dengan meningkatnya populasi kendaraan listrik yang berpotensi menyisakan tumpukan sel daya yang sudah tidak terpakai.
Sutedjo berpendapat bahwa kehadiran teknologi kecerdasan buatan sejatinya berfungsi untuk meningkatkan potensi manusia, bukan sebagai pengganti peran manusia sepenuhnya.
Pihak industri mulai memetakan jalur logistik balik untuk memastikan setiap unit baterai yang habis masa pakainya kembali ke pusat pengolahan.
"Penting bagi kita untuk melihat baterai bekas bukan sebagai sampah, melainkan sebagai sumber daya material baru yang bisa diekstraksi kembali," ujar Triharsa Adicahya, sebagaimana dilansir dari msn.com, Senin (27/4/2026).
Triharsa menjelaskan bahwa proses daur ulang yang canggih mampu mengambil kembali unsur nikel, kobalt, dan lithium hingga persentase yang sangat tinggi.
Ekosistem kendaraan listrik baru bisa dikatakan sepenuhnya hijau jika masalah residu komponen utamanya sudah tertangani dengan standar lingkungan yang ketat.
"Kami di Spora EV terus berupaya membangun kesadaran bahwa penanganan limbah baterai EV adalah kunci keberlanjutan mobilitas elektrik di Indonesia," tutur Triharsa Adicahya, sebagaimana dilansir dari msn.com, Senin (27/4/2026).
Investasi pada fasilitas pengolahan limbah lokal diprediksi akan menjadi peluang bisnis baru yang sangat menjanjikan bagi sektor energi terbarukan.
Tanpa adanya regulasi yang jelas, kekhawatiran akan penumpukan zat kimia berbahaya di tempat pembuangan akhir bisa menjadi hambatan bagi adopsi kendaraan listrik.
Pemerintah saat ini tengah menggodok aturan turunan yang mewajibkan produsen bertanggung jawab atas seluruh siklus hidup produk yang mereka jual.
Integrasi antara teknologi digital dan pengelolaan fisik baterai akan mempermudah pelacakan status kesehatan sel daya secara real-time di lapangan.