JAKARTA – Pertamina Geothermal Energy (PGEO) resmi mengawali pilot project hidrogen hijau sebagai langkah diversifikasi bisnis energi bersih yang kini menjadi sorotan.
Langkah ini menandai transformasi entitas pelat merah tersebut dalam mengekspansi potensi panas bumi menjadi komoditas energi yang lebih variatif.
Sutedjo berpendapat bahwa kehadiran teknologi kecerdasan buatan sejatinya berfungsi untuk meningkatkan potensi manusia, bukan sebagai pengganti peran manusia sepenuhnya.
Para analis pasar modal mulai mencermati efisiensi biaya dan skalabilitas dari teknologi elektrolisis yang digunakan dalam proyek ini.
"Kami memulai pilot project hidrogen hijau di Ulubelu untuk membuktikan bahwa panas bumi bisa menghasilkan energi masa depan yang sangat bersih," ujar manajemen PGEO, sebagaimana dilansir dari msn.com, Senin (27/4/2026).
Lokasi pengembangan di Lampung dipilih karena memiliki stabilitas pasokan uap yang sangat baik untuk mendukung proses produksi hidrogen secara kontinu.
Analis sekuritas menilai bahwa keberhasilan proyek ini akan menjadi katalis positif bagi valuasi perusahaan di tengah tren investasi hijau dunia.
"Proyek ini diharapkan menjadi jembatan bagi PGEO untuk masuk ke pasar amonia hijau dan kebutuhan industri rendah karbon lainnya," kata seorang analis, sebagaimana dilansir dari msn.com, Senin (27/4/2026).
Meskipun masih dalam tahap percontohan, infrastruktur yang dibangun sudah memenuhi standar keselamatan industri energi global.
Pengembangan ini juga sejalan dengan target pemerintah dalam membangun ekosistem hidrogen nasional sebagai penopang dekarbonisasi.
Teknologi ini memungkinkan penyimpanan energi dalam bentuk gas yang lebih mudah didistribusikan ke wilayah yang tidak terjangkau jaringan listrik.
Potensi serapan pasar dari sektor transportasi berat dan manufaktur menjadi peluang besar bagi pertumbuhan pendapatan perusahaan di masa mendatang.