JAKARTA - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) bersama PT Pertamina (Persero) senantiasa menjalankan sejumlah langkah pencegahan agar tidak terjadi penumpukan kendaraan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di berbagai wilayah.
Hal itu dijalankan di tengah meningkatnya pemakaian bahan bakar minyak bersubsidi, terkhusus jenis Pertalite serta Solar.
Kepala BPH Migas Wahyudi Anas menyebutkan perkara antrean BBM yang sempat muncul di sejumlah daerah hanya terjadi di tempat tertentu dan langsung diselesaikan bersama pihak Pertamina.
"Kami bersama Pertamina Grup ini terus berjibaku, best effort semuanya. Untuk melakukan pelayanan kepada masyarakat seoptimal mungkin. Kalau terjadi antrian yang sifatnya short term, itu tidak bisa secara klarifikasi dan mitigasi. Kami terus segera mengurai," ujar Wahyudi saat berbicara di Energy Forum CNBC Indonesia, Jakarta dikutip Rabu (1/7/2026).
Pada sudut pandang lain, Wahyudi membenarkan bahwa konsumsi BBM bersubsidi memang mengalami kenaikan, khususnya bagi Solar.
Keadaan itu beriringan dengan adanya migrasi penggunaan dari BBM non subsidi ke BBM bersubsidi.
Setidaknya hingga hari ke 172 tahun 2026, capaian penyaluran Solar subsidi sudah menyentuh 101,98% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya atau meningkat sekitar 1,98%.
Sementara itu, pemakaian Pertalite juga mencatatkan pertumbuhan.
Di sisi lain, pihak pemerintah menetapkan kuota Pertalite sebesar 29,27 juta kiloliter pada tahun 2026 atau sekitar 21% lebih besar dibandingkan kebutuhan wajar.
Meskipun demikian, capaian pemakaian sampai saat ini masih berada di bawah kuota.
"Untuk Pertalite ini juga konsumsinya cukup lumayan. Jadi negara menyediakan 29,27 juta kiloliter dan ini ada kenaikan kurang lebih sekitar 21 persen dari kebutuhan normal," ujar dari Sumbernya.