ECADIN: Mitigasi Emisi Metana Sektor Migas Jauh Lebih Cepat

Selasa, 09 Juni 2026 | 14:53:47 WIB
Ilustrasi industri hulu migas (FOTO: NET)

JAKARTA - Lembaga Energy Academy Indonesia (ECADIN) berpendapat bahwa upaya pengurangan emisi metana di industri minyak dan gas bumi berpotensi terlaksana secara lebih cepat serta mudah untuk diawasi.

"Mengapa kami fokusnya ke sektor energi, terutama di minyak dan gas? Karena yang pertama, lebih mudah untuk mengontrol atau mengurangi emisi di sektor minyak dan gas," ujar COO ECADIN Candra Sutama dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Selasa.

Menurut penjelasan Candra, industri minyak dan gas bumi termasuk dalam kategori bidang yang sangat bertumpu pada faktor teknis.

Industri ini dibekali dengan berbagai metode, instrumen, serta pengetahuan yang mendalam untuk memangkas volume emisi mereka secara mandiri, ditambah lagi jumlah operator minyak dan gas bumi terhitung relatif sedikit.

Oleh karena itu, jika membangun kolaborasi dengan sebuah perusahaan migas, maka secara otomatis perusahaan tersebut akan menerapkan sistem yang sama ke segenap unit usahanya.

Keadaan seperti inilah yang menjadikan penurunan metana di sektor minyak dan gas bumi dapat diwujudkan secara lebih taktis dan efisien.

Selanjutnya, Candra menilai bahwa kegiatan menekan emisi metana pada rantai migas sama sekali tidak menimbulkan biaya tambahan, melainkan berpeluang menghasilkan keuntungan investasi baru bagi industri migas karena gas metana yang dijual kembali dapat menghasilkan pendapatan serta profit bagi sektor bersangkutan.

"Sehingga ada dua sisi yang satu melindungi bumi, melindungi manusia, yang kedua menghasilkan uang untuk mereka sendiri," kata Candra.

Metana itu sendiri ialah komponen utama dari gas alam sekaligus bagian dari emisi gas rumah kaca yang tidak berwarna dan tidak berbau, sehingga lokasi kebocorannya hampir mustahil diidentifikasi lewat pandangan mata.

Karakteristiknya bereaksi secara cepat dan kuat, hanya bertahan dalam periode singkat di atmosfer bumi, tetapi mempunyai daya perangkap panas yang jauh lebih besar pada tahap-tahap awal.

Gas metana diklasifikasikan sebagai gas rumah kaca dengan kekuatan masif yang berkontribusi hingga 30 persen terhadap gejala pemanasan global.

Efek destruktifnya bahkan menyentuh angka 80 kali lipat lebih kuat dibandingkan karbon dioksida dalam rentang waktu dua puluh tahun pertama.

Di wilayah Indonesia, distribusi emisi metana berasal dari sektor pertanian seperti peternakan dan lahan persawahan, diikuti sektor energi seperti komoditas batu bara serta migas, hingga sektor domestik seperti sampah makanan maupun timbunan sampah.

Terkini