Pertamina Pacu Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih di Keliki

Rabu, 03 Juni 2026 | 15:02:27 WIB
Komisaris Independen PT Pertamina (Persero), Condro Kirono bersama Jajaran Dewan Komisaris PT Pertamina (Persero). (Sumber Foto: kompastv.com)

JAKARTA – Program Desa Energi Berdikari Keliki di Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar, Bali, menggalakkan penguatan ketahanan pangan lewat pemanfaatan energi bersih melalui penggunaan pembangkit listrik tenaga surya untuk pengelolaan sampah serta pengairan pertanian. 

Penggunaan energi terbarukan tersebut berkontribusi pada peningkatan produktivitas pertanian sekaligus menurunkan biaya operasional dan emisi gas rumah kaca.

Inisiatif yang dijalankan oleh Pertamina ini memadukan pengelolaan sampah, pertanian organik, dan energi baru terbarukan dalam satu ekosistem pemberdayaan masyarakat. Tenaga surya dimanfaatkan untuk mendukung operasional Tempat Pengolahan Sampah Terpadu serta sistem irigasi sawah selama musim kemarau.

Ketua BUMDes Yowana Bakti Keliki sekaligus Local Hero Desa Energi Berdikari Keliki, I Wayan Sumada, menyatakan bahwa desa tersebut menghasilkan sekitar 7 ton sampah per hari sehingga keberadaan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu menjadi krusial dalam menunjang pengelolaan lingkungan serta ekonomi masyarakat.

“Di Desa Keliki setidaknya menghasilkan sekitar 7 ton sampah per hari, dengan produktivitas yang sangat tinggi tersebut kehadiran Tempat Pengolahan Sampah Terpadu - Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) sangat membantu masyarakat untuk mengelola dan mengolah sampah,” ujarnya.

Demi mendukung kegiatan pengolahan sampah, Desa Energi Berdikari Keliki mengoperasikan pembangkit listrik tenaga surya dengan kapasitas terpasang 10,5 kWp. 

Fasilitas tersebut memproduksi energi surya sebesar 14.256 kWh setiap tahun, menghemat biaya listrik sekitar Rp21 juta per tahun, serta mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 13,7 ton CO2eq per tahun.

Menurut Sumada, program ini juga memicu perubahan perilaku masyarakat dalam melakukan pemilahan sampah rumah tangga berdasarkan kategori organik, anorganik, dan residu.

“Saat ini kesadaran untuk masyarakat memilih sampah itu sudah sangat tinggi berkat kerja sama kami dengan Pertamina, kami mengelola sampah untuk dikembalikan ke alam hingga kemudian bisa semakin bermanfaat lagi untuk alam,” tambahnya.

Selain pengelolaan sampah, tenaga surya juga dipakai untuk menggerakkan sistem irigasi pertanian. Desa Energi Berdikari Keliki mengoperasikan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 17,5 kWp yang digunakan untuk memompa air tanah bertenaga surya guna mengairi lahan pertanian di tujuh subak, yakni Tain Kambing, Sebali, Uma Desa Keliki, Jungut, Umelikode, Bangkiangsidem, dan Lauh Batu. 

Pembangkit tersebut menghasilkan energi surya sekitar 84.000 kWh per tahun, menekan emisi gas rumah kaca sebesar 23,1 ton CO2eq per tahun, serta menghemat biaya listrik hingga Rp35 juta per tahun.

Dukungan energi bersih di sektor pertanian berpengaruh positif terhadap peningkatan produktivitas padi organik. Sebelum program diterapkan, hasil panen petani berada pada kisaran 5 hingga 5,5 ton per hektare. 

Pasca pendampingan dan penerapan sistem pertanian organik, produktivitas meningkat hingga mencapai 8,7 ton per hektare.

Jajaran Dewan Komisaris Pertamina meninjau secara langsung pelaksanaan program tersebut pada Kamis (28/5/2026). Komisaris Independen Pertamina, Raden Adjeng Sondaryani, menilai program tersebut menunjukkan keterkaitan erat antara aspek lingkungan dan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“Dari program DEB Keliki ini, menunjukkan komitmen Pertamina dalam memberikan dukungan kepada masyarakat melalui program-program yang dimiliki. 

Melihat keberhasilan DEB Keliki, saya dan jajaran Dewan Komisaris sangat senang, semoga program TSJL Perusahaan bisa lebih memberikan dampak yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat,” ujarnya.

Saat ini Desa Energi Berdikari Keliki telah berkembang menjadi ekosistem ekonomi berbasis energi bersih melalui kegiatan Eco Village dan agrikultur. 

Program ini menjangkau sekitar 1.200 kepala keluarga penerima manfaat, melibatkan sembilan tenaga kerja, serta berkolaborasi dengan 15 pelaku UMKM pemuda desa. Melalui pengelolaan sampah, masyarakat mampu menghasilkan produk bernilai ekonomi tinggi seperti pupuk organik, kompos organik, dan ecoenzyme

Kegiatan tersebut juga mendorong kunjungan edukasi dari berbagai perguruan tinggi serta wisatawan mancanegara. 

Tercatat sekitar 6.000 pengunjung telah mendatangi Desa Energi Berdikari Keliki untuk mempelajari pengelolaan sampah dan pertanian berbasis energi bersih, sekaligus menikmati kawasan persawahan serta usaha kuliner milik warga setempat.

Terkini