Dominasi CATL dan BYD di Pasar Baterai EV, India Mulai Berdikari

Jumat, 29 Mei 2026 | 11:05:22 WIB
CATL dan BYD kuasai lebih dari 55% pasar baterai kendaraan listrik global pada 2025. (Sumbe Foto: NET)

INDIA - Industri baterai kendaraan listrik (EV) dunia semakin menjadi inti persaingan strategis sektor otomotif global. Seiring tingginya penyerapan kendaraan listrik, pembuat baterai kini memegang peran setara dengan penyuplai mesin serta transmisi pada masa kendaraan bermesin pembakaran internal. 

Berdasarkan laporan SNE Research yang dihimpun Auto Punditz, pemanfaatan baterai EV global pada 2025 menyentuh angka sekitar 1.187 GWh atau tumbuh 31,7% secara tahunan (year-on-year). Sektor ini pun masih didominasi korporasi asal Asia, terutama Tiongkok.

Dua raksasa, CATL dan BYD, sukses memegang kendali atas lebih dari separuh total instalasi baterai EV dunia sepanjang tahun lalu. CATL kokoh memimpin pasar dengan instalasi 464,7 GWh dan pangsa pasar 39,2% pada 2025. 

Capaian ini menempatkan CATL sebagai satu-satunya manufaktur baterai dengan pangsa pasar di atas 30%. Kekuatan utama CATL bersumber dari dominasi di pasar domestik Tiongkok, Eropa, dan berbagai platform kendaraan listrik global. 

Keunggulan mereka dalam teknologi baterai Lithium Iron Phosphate (LFP) menjadikan CATL mampu menjaga jarak kompetisi dari rival asal Korea Selatan dan Jepang.

Di sisi lain, BYD berada di peringkat kedua dengan instalasi baterai mencapai 194,8 GWh serta pangsa pasar 16,4%. Berbeda dengan CATL, BYD memiliki kelebihan integrasi vertikal karena berstatus sebagai salah satu produsen EV terbesar saat ini. 

Strategi tersebut mempermudah BYD mengontrol ongkos produksi, memastikan keamanan pasokan baterai, sekaligus mengakselerasi ekspansi kendaraan listrik ke kancah global. Secara akumulatif, CATL dan BYD membukukan instalasi baterai sebesar 659,5 GWh atau menguasai 55,6% pasar baterai EV dunia pada 2025.

Keunggulan Tiongkok kian nyata lewat daftar 10 besar produsen baterai EV dunia, di mana enam korporasi berasal dari Negeri Tirai Bambu, termasuk CALB, Gotion High-Tech, EVE Energy, dan Svolt. 

Laporan tersebut menyebut dominasi Tiongkok terbentuk oleh skala produksi masif, sistem biaya ekonomis, tingginya permintaan EV domestik, hingga percepatan penerapan teknologi baterai LFP yang lebih murah dan aman bagi pasar massal.

Sementara itu, pemain asal Korea Selatan dan Jepang tetap mempertahankan peran krusial. LG Energy Solution bertahan sebagai produsen non-Tiongkok terbesar dengan instalasi 108,8 GWh dan pangsa pasar 9,2%. SK On, Samsung SDI, dan Panasonic juga tetap bertahan di 10 besar. 

Namun, tekanan terhadap perusahaan Korea Selatan dan Jepang kian berat karena produsen Tiongkok tampil lebih agresif dalam ekspansi serta menawarkan solusi pendanaan yang lebih kompetitif.

Di saat bersamaan, India kini memacu pembangunan ekosistem baterai EV domestik. Meski saat ini masih bergantung pada impor sel baterai dari Tiongkok dan negara Asia lainnya, India mulai menggalakkan lokalisasi manufaktur lithium-ion melalui kucuran investasi anyar. 

Pemerintah India menyokong strategi ini lewat program Production Linked Incentive (PLI) untuk Advanced Chemistry Cell (ACC) battery storage

Agenda ini melibatkan korporasi seperti Reliance New Energy Solar, Ola Electric Mobility, Hyundai Global Motors, hingga Rajesh Exports. Beberapa pelaku usaha yang menjadi pilar industri baterai EV di India antara lain Tata Agratas, Ola Electric, Reliance New Energy, Exide Energy Solutions, dan Amara Raja Energy & Mobility.

Tata Agratas, misalnya, berencana mendirikan pabrik sel lithium-ion berkapasitas 20 GWh di Gujarat untuk menyokong kebutuhan kendaraan listrik dan penyimpanan energi. 

Ola Electric tengah menggarap fasilitas produksi sel baterai di Tamil Nadu dan memperkenalkan produk 4680 Bharat Cell hasil rakitan lokal. Laporan itu memaparkan bahwa India memang masih berada di tahapan awal industri manufaktur sel baterai EV. 

Banyak pelaku usaha lokal saat ini masih berfokus pada perakitan battery pack, padahal nilai strategis tertinggi terletak pada produksi sel baterai. Namun, langkah perusahaan besar seperti Tata Agratas, Ola, Reliance, Exide, dan Amara Raja menjadi pertanda kuat bahwa India mulai menuju lokalisasi industri baterai EV yang lebih mendalam. 

Terkini