Pasokan Melimpah, Harga Minyak Brent dan WTI Kembali Terkoreksi

Pasokan Melimpah, Harga Minyak Brent dan WTI Kembali Terkoreksi
harga minyak mentah Sumber. ( Sumber : NET )

NEW YORK - Harga minyak dunia ditutup melemah pada perdagangan Senin (6/7/2026) waktu setempat seiring bertambahnya stok dari negara-negara produsen utama serta pulihnya pengiriman melalui Selat Hormuz.

Keadaan tersebut membuat tarif minyak kembali ke posisi sebelum meletusnya perang Iran yang sempat menggoncang pasar energi global.

Berdasarkan data Reuters, tarif minyak Brent ditutup turun 0,2% menjadi US$ 71,99 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 0,2% ke US$ 68,55 per barel.

Pergerakan ini menandakan keberlanjutan kecenderungan penurunan tarif minyak dalam satu bulan terakhir setelah sebelumnya sempat melesat hingga di atas US$ 126 per barel pada April akibat perselisihan Iran yang memicu hambatan stok energi paling besar dalam riwayat modern, menurut International Energy Agency (IEA).

Analis UBS Giovanni Staunovo menuturkan, tekanan terhadap tarif minyak masih dipengaruhi oleh bertambahnya stok setelah kapal-kapal tanker yang sebelumnya tertahan mulai kembali mengangkut minyak dari kawasan Teluk.

"Minyak yang kembali mengalir ke pasar membuat pasokan di laut meningkat dan menjadi tekanan bagi harga," ujarnya.

Sentimen kurang baik juga datang dari Arab Saudi yang memangkas tarif jual resmi (official selling price/OSP) minyak Arab Light untuk pasar Asia pada Agustus menjadi US$ 1,50 per barel di bawah rata-rata Oman/Dubai.

Pengurangan tersebut menjadi yang paling besar sejak Reuters mulai mencatat data pada 2003.

Selain itu, Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) juga dilaporkan menawarkan minyak mentah dengan tarif diskon lewat mekanisme tender.

Direktur Energy Futures Mizuho, Robert Yawger, menilai tindakan negara-negara Teluk itu menunjukkan persaingan tarif mulai memanas.

"Semakin terlihat bahwa produsen di kawasan Teluk sedang bersiap menghadapi perang harga," katanya.

Tekanan terhadap tarif juga muncul setelah OPEC+ menyetujui kenaikan sasaran produksi sebesar 188.000 barel per hari mulai Agustus.

Tambahan tersebut mengikuti kenaikan produksi yang telah dipublikasikan untuk Juni dan Juli.

Di luar OPEC+, Uni Emirat Arab (UEA) juga menaikkan produksi minyak mendekati rekor paling tinggi, yakni lebih dari 3,8 juta barel per hari pada Juni setelah keluar dari OPEC agar bebas dari batasan produksi.

Walaupun stok bertambah, pelaku pasar masih memantau perkembangan hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran, khususnya mengenai keamanan pelayaran di Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.

Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan bahwa Washington akan mencapai kesepakatan dengan Iran atau mengambil langkah yang lebih tegas apabila diplomasi gagal.

Pernyataan tersebut muncul setelah pembicaraan tidak langsung kedua negara pekan lalu belum memberikan kemajuan berarti menuju perdamaian jangka panjang.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik masih membayangi pasar.

Militer Ukraina mengeklaim telah menyerang kilang minyak paling besar Rusia di Omsk serta sejumlah fasilitas energi lainnya.

Sementara itu, data Departemen Energi AS menunjukkan cadangan minyak di Strategic Petroleum Reserve (SPR) turun 6,2 juta barel menjadi 319,5 juta barel, level paling rendah sejak April 1983.

Kabar baik datang dari sektor pelayaran global.

Dua perusahaan pelayaran paling besar dunia, Maersk dan Hapag-Lloyd, mulai kembali melintasi Terusan Suez setelah situasi keamanan membaik.

Jalur tersebut sebelumnya banyak ditinggalkan akibat serangan kelompok Houthi di Laut Merah dan kini diperkirakan sanggup memangkas durasi pengiriman Asia-Eropa sampai empat pekan. 

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index