Empat Tahap Mematikan dalam 8 Menit, Dokter Ungkap Cara Karbon Monoksida

Empat Tahap Mematikan dalam 8 Menit, Dokter Ungkap Cara Karbon Monoksida
Ilustrasi Keracunan Karbon Monoksida. (Sumber Foto: lifestyle.kompas.com)

TEMANGGUNG – Insiden meninggalnya satu keluarga saat berkemah di objek wisata Posong, Temanggung, kini menarik perhatian publik mengenai risiko bahaya karbon monoksida di ruang tertutup.

Dokter spesialis forensik dan medikolegal sekaligus mitra RS Bhayangkara Semarang, Istiqomah, menjelaskan bagaimana gas tersebut dapat menyebabkan kematian hanya dalam hitungan menit. 

Peristiwa tragis itu menimpa satu keluarga asal Ambarawa, Kabupaten Semarang, yakni Muhammad Ali Munawar (52), istrinya Maghfirah (43), serta dua anak mereka, Bagas Amar Hakiki (21) dan Alvino Evan Hakim (16).

Berdasarkan hasil penyelidikan kepolisian, para korban diduga membawa tungku arang briket yang masih menyala ke dalam tenda yang tertutup rapat setelah melakukan kegiatan memasak. 

Kondisi tersebut memicu penumpukan karbon monoksida di dalam tenda yang menghambat suplai oksigen. Menurut Istiqomah, karbon monoksida merupakan gas beracun yang menggeser peran oksigen dalam darah, sehingga tubuh kehilangan pasokan oksigen secara bertahap.

“Korban kemungkinan meninggal pada dini hari menjelang pagi. Dalam kasus keracunan karbon monoksida, kematian dapat terjadi dalam waktu relatif singkat, bahkan hanya dalam hitungan menit,” ujar Istiqomah, Selasa (16/6/2026).

Ia menjelaskan bahwa proses keracunan karbon monoksida berlangsung sangat cepat. Setelah terhirup, gas tersebut akan langsung mengganggu distribusi oksigen ke organ-organ vital tubuh.

“Begitu karbon monoksida masuk ke dalam tubuh, pasokan oksigen langsung berkurang. Dalam waktu sekitar delapan menit, korban dapat mengalami kondisi mulai dari kekurangan oksigen hingga sesak napas,” jelasnya.

Menurut Istiqomah, terdapat empat fase kritis yang dapat terjadi saat tubuh terpapar karbon monoksida dalam konsentrasi tinggi. Setiap fase berlangsung dalam waktu singkat, sekitar dua menit. 

Fase awal dimulai dengan penurunan kadar oksigen, disusul respons sistem pernapasan yang memacu kerja tubuh untuk memenuhi kebutuhan oksigen.

Tahap berikutnya ditandai munculnya gangguan pernapasan yang semakin berat hingga sesak napas. 

Jika paparan terus berlangsung, fungsi organ vital akan terganggu dan korban kehilangan kesadaran sebelum akhirnya meninggal dunia akibat asfiksia atau mati lemas. Istiqomah menduga para korban tidak menyadari bahaya tersebut karena karbon monoksida tidak memiliki bau yang menyengat.

“Asap pasti terlihat, tetapi mungkin tidak disadari karena tidak memiliki bau yang menyengat. Karbon monoksida juga tidak menimbulkan sensasi yang mengganggu tenggorokan, sehingga kemungkinan korban tidak menyadari bahaya yang mengintai,” tuturnya.

Sementara itu, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Anwar Nasir, mengingatkan masyarakat agar tidak membawa alat pemanas, kompor gas, maupun sumber pembakaran lainnya ke dalam ruang tertutup tanpa ventilasi yang memadai.

“Membawa alat-alat tersebut ke dalam ruangan tanpa sirkulasi udara yang memadai sangat berbahaya dan dapat mengakibatkan mati lemas,” tegasnya.

Polisi sebelumnya telah memastikan kematian empat anggota keluarga di Posong disebabkan keracunan karbon monoksida dari arang briket yang digunakan di dalam tenda tertutup.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index