Seberapa Besar AC Menguras Baterai Mobil Listrik Anda?

Seberapa Besar AC Menguras Baterai Mobil Listrik Anda?
Fitur AC Mobil di Hyundai IONIQ 5 (FOTO: NET)

JAKARTA - Saat suhu udara meningkat tajam ketika musim kemarau datang, penggunaan penyejuk kabin atau air conditioner menjadi fasilitas utama yang diandalkan para pengemudi kendaraan setrum untuk menjaga kenyamanan selama perjalanan.

Namun di balik udara sejuk di dalam kabin tersebut, muncul pertanyaan mengenai seberapa banyak kapasitas baterai yang dihabiskan untuk menghidupkan sistem pendingin tersebut.

Sistem pengkondisi udara pada kendaraan listrik termasuk dalam deretan komponen yang mengonsumsi daya sangat besar setelah motor penggerak utama.

Oleh karena itu, penggunaan fitur pengatur suhu ini menjadi faktor yang ikut menentukan tingkat efisiensi baterai serta jarak maksimal yang dapat dicapai kendaraan.

Berdasarkan data dari Recharged, jumlah energi yang dihabiskan oleh penyejuk udara sangat dipengaruhi oleh temperatur udara di luar.

Semakin tinggi suhu di luar kabin mobil, semakin besar pula energi listrik yang dibutuhkan untuk menjaga ruangan dalam kendaraan tetap dingin.

Efek dari penggunaan penyejuk udara terhadap jarak tempuh mulai kelihatan sangat signifikan ketika temperatur udara berada di atas 29 derajat Celsius.

Dalam kondisi tersebut, sistem pendingin dipaksa bekerja lebih keras sehingga konsumsi energi melonjak dibandingkan ketika cuaca sedang sejuk.

Data menunjukkan bahwa pada suhu sekitar 27 derajat Celsius, pemakaian sistem pendingin dapat mengurangi jarak jelajah kendaraan listrik dengan rata-rata mendekati 2,8 persen.

Namun saat suhu melewati 35 derajat Celsius, pemotongan jarak tempuh tersebut dapat meningkat drastis hingga mencapai kisaran 17 persen.

Secara umum, menyalakan sistem penyejuk udara di daerah beriklim tropis atau panas dapat menurunkan efisiensi perjalanan kendaraan listrik sekitar 11 persen.

Meskipun demikian, persentase itu ternyata masih lebih kecil jika dibandingkan dengan penggunaan pemanas ruang kabin di wilayah beriklim dingin yang dapat memangkas jarak jelajah hingga kisaran 17 persen.

Perbedaan ini terjadi karena sistem pendingin ruangan dan sistem pemanas beroperasi dengan mekanisme yang berbeda.

Pada model kendaraan elektrik, semua pasokan daya untuk mengatur suhu kabin bersumber sepenuhnya dari unit baterai utama.

Komponen kompresor pendingin pada kendaraan listrik berputar dengan memakai daya listrik.

Saat tombol penyejuk udara diaktifkan, baterai akan menyalurkan daya listrik untuk memutar kompresor yang berfungsi membuang hawa panas dari dalam kabin ke luar kendaraan.

Hal ini berbeda dengan mobil konvensional berbahan bakar bensin atau solar yang dapat memanfaatkan sisa panas dari mesin untuk menghangatkan suhu udara, di mana kendaraan elektrik bergantung sepenuhnya pada daya baterai untuk menggerakkan sistem kendali iklim.

Konsumsi daya oleh penyejuk udara sendiri tidak berjalan secara konstan atau terus-menerus sama.

Pada saat awal ketika mobil yang habis diparkir di bawah terik matahari mulai didinginkan, kompresor akan berputar secara maksimal untuk menurunkan suhu kabin dalam waktu cepat.

Dalam fase pertama ini, pasokan daya yang dibutuhkan dapat mencapai 3 hingga 5 kilowatt.

Tahapan ini menjadi periode yang paling boros mengonsumsi daya listrik sekaligus memberikan efek paling nyata terhadap berkurangnya jarak jelajah kendaraan.

Setelah suhu di dalam ruang kabin mencapai tingkat kesejukan yang diinginkan, mekanisme kerja akan berpindah ke tahapan menjaga suhu.

Pada fase berikutnya ini, kebutuhan energi akan menurun drastis dan biasanya hanya memerlukan daya sekitar 1 kilowatt saja untuk menjaga ruang kabin tetap nyaman.

Agar operasional penyejuk udara tidak terlalu menguras daya baterai, para pemilik kendaraan elektrik dapat menerapkan beberapa cara mudah.

Salah satu metodenya adalah dengan memaksimalkan fungsi pre-conditioning saat mobil masih dalam posisi terhubung ke stasiun pengisian daya.

Melalui fitur cerdas tersebut, pengemudi dapat menurunkan suhu ruangan sebelum perjalanan dimulai, sehingga proses penurunan suhu awal menggunakan arus listrik dari stasiun pengisian dan bukan mengambil dari baterai mobil.

Selain itu, memarkir kendaraan di tempat yang teduh serta memasang pelindung panas di kaca depan juga bermanfaat membantu menekan kenaikan suhu kabin.

Melalui kondisi suhu awal yang tidak terlalu panas, beban kerja kompresor menjadi lebih ringan sehingga konsumsi daya dapat dikurangi sedemikian rupa.

Teknologi pengatur suhu multi-zona yang terpasang pada beberapa kendaraan listrik model terbaru juga dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi.

Fasilitas ini memungkinkan proses pendinginan hanya diarahkan pada area yang diisi oleh penumpang, sehingga energi tidak terbuang percuma untuk mendinginkan area yang kosong.

Pada perkembangan lain, sektor industri kendaraan global terus menciptakan inovasi teknologi untuk mengurangi konsumsi daya sistem pendingin mobil listrik.

Salah satu terobosan yang sekarang banyak diterapkan yaitu penggunaan heat pump yang dapat mengatur suhu ruangan dengan konsumsi daya yang jauh lebih hemat.

Para produsen juga sudah mulai menyisipkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence untuk mengontrol suhu kabin secara otomatis dengan membaca kondisi cuaca, kebiasaan berkendara, hingga kenyamanan yang disukai pengemudi.

Perbaikan sistem manajemen baterai, penggunaan teknologi pendingin berbasis cairan, hingga pemanfaatan sisa panas dari komponen internal mobil ikut berperan dalam meningkatkan efisiensi daya.

Berbagai inovasi teknologi ini diharapkan dapat menjaga kenyamanan para pengemudi tanpa harus mengorbankan kapasitas daya jelajah mobil listrik secara drastis.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index