Polisi Bongkar Markas Judol Vietnam di Jakarta, 320 WNA Ditangkap

Polisi Bongkar Markas Judol Vietnam di Jakarta, 320 WNA Ditangkap
Proses pemeriksaan dan penggeledahan kantor operasional situs judol oleh Bareskrim Polri. (Sumber Foto:NET)

JAKARTA – Penindakan tegas terhadap kompleks scam dan judi online oleh otoritas Thailand di Myanmar serta Kamboja ternyata bukan akhir dari kejahatan transnasional tersebut.

 Saat ini, operasi judi online justru merambah ke negara lain, termasuk Indonesia. 

Pekan lalu, kepolisian menggerebek Hayam Wuruk Plaza Tower di Jakarta Barat yang dijadikan markas jaringan internasional.

 Dalam operasi tersebut, 320 Warga Negara Asing (WNA) dan satu WNI ditangkap, dengan mayoritas berasal dari Vietnam sebanyak 228 orang.

Pakar keamanan siber, Alfons Tanujaya, menilai fenomena ini bukan berarti seluruh markas judi online berpindah ke Indonesia.

 Keberadaan aktivitas di Jakarta Barat tersebut justru mengonfirmasi pola kejahatan lintas negara yang selalu berpindah-pindah demi menghindari aparat.

"Jangan sampai salah anggap bahwa Indonesia, semua pindah ke Indonesia. Dari Kamboja pindah ke Indonesia, Kamboja yang antah-berantah pindah ke Indonesia, bukan begitu. Ini memang terjadi di mana-mana, gitu, loh," ujar Alfons.

Menyasar Korban di Luar Negeri 

Alfons menjelaskan bahwa markas di Indonesia ini digunakan untuk menjerat warga negara lain. 

Banyaknya operator asal Vietnam mengindikasikan bahwa target utama mereka bukanlah warga lokal Indonesia, melainkan pasar di negara asal para operator tersebut agar komunikasi lebih lancar.

"Jadi yang tertangkap (di Hayam Wuruk) ini kemungkinan besar market-nya adalah Vietnam atau China atau Thailand sesuai dengan kewarganegaraan. Kenapa? Karena untuk nipu orang Vietnam, pakai bahasa Vietnam, bukan pakai orang Indonesia gitu," tutur Alfons. Ia menambahkan, "Anda nipu orang Indonesia pakai orang Vietnam, ngomong apa? Bahasa dong? Kan konyol. Jadi itu yang perlu disadari."

Sebaliknya, temuan Dittipideksus Bareskrim Polri menunjukkan bahwa situs judi online yang menargetkan masyarakat Indonesia, seperti CIVICTOTO dan JALUTOTO, justru diduga kuat beroperasi dari Kamboja. 

Hal ini terlihat dari sistem deposit dan penarikan yang menggunakan rekening bank di Indonesia.

"Situs tersebut menggunakan sistem deposit dan withdraw melalui rekening bank di Indonesia, sehingga diduga kuat situs tersebut menargetkan masyarakat Indonesia sebagai pengguna atau market," kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri, Brigjen Ade Safri Simanjuntak.

Polisi telah menangkap pengendali situs berinisial LT alias T di Tangerang, yang diketahui menggerakkan 17 karyawan di Kamboja sejak 2022.

"Mereka terdiri dari 1 manager, 2 admin, 13 operator dan 1 auditor untuk menjalankan operasional situs judi online yang seluruhnya berada di Kamboja," jelas Ade.

Kendala Penangkapan dan Pengawasan

 Metode lintas negara ini sengaja dipilih agar sulit dideteksi.

 Jika pelaku berada di luar negeri, Polri membutuhkan kerja sama internasional yang prosesnya panjang. 

Kriminolog Universitas Indonesia, Adrianus Eliasta Sembiring Meliala, berpendapat bahwa jaringan ini memilih Indonesia karena dianggap memiliki sistem hukum yang belum sempurna dan koordinasi antarlembaga yang masih lemah.

Untuk mengatasi hal ini, Alfons menyarankan penguatan pengawasan di pintu masuk negara agar WNA tidak mudah overstay

Selain itu, ia menekankan pentingnya memblokir server, bukan sekadar iklan. 

Caranya adalah dengan menelusuri alamat IP melalui tautan yang ditawarkan dalam iklan tersebut.

"Jangan ngeblok iklannya, itu kurang pintar, gitu, loh. Jadi yang diblok itu server-nya," tegas Alfons.

Senada dengan hal itu, Anggota Komisi III DPR RI, Rudianto Lallo, mendesak kepolisian untuk bertindak tegas agar Indonesia tidak menjadi tempat aman bagi sindikat internasional. 

Ia meminta aktor utama dan pihak yang membekingi segera dibongkar. 

Pihak kepolisian sendiri telah mengantisipasi pergeseran markas dari kawasan Indochina ke Indonesia. 

Sekretaris NCB Interpol Indonesia Divhubinter Polri, Brigjen Polri Untung Widyatmoko, menyatakan bahwa pergerakan ini sudah diprediksi sebelumnya.

"Setelah ditertibkan (di negara-negara tersebut), mulai terjadi pergeseran ke Indonesia dan itu tentunya sudah kami antisipasi dan kami prediksi," pungkas Untung.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index