JAKARTA - PT PLN (Persero) resmi memulai penggunaan sistem manajemen energi pintar di lingkungan perkantoran melalui peluncuran program Smart & Green Building.
Program ini diawali dengan pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap berkapasitas total 12 megawatt peak (MWp) yang diresmikan di Kantor Pusat PLN pada Jumat (8/5/2026).
Upaya tersebut merupakan bagian dari rencana strategis guna mengoptimalkan efisiensi energi, mereduksi emisi karbon, serta mempercepat transformasi digital hingga tahun 2035.
Lewat skema ini, berbagai teknologi berkelanjutan diterapkan dalam operasional kantor, termasuk panel surya, sistem pemantauan listrik digital, hingga perangkat pendingin ruangan pintar yang terkoneksi internet.
Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah pola perusahaan energi dalam mengelola sumber daya listrik.
Saat ini, fokus perusahaan bergeser dari penyedia listrik konvensional menjadi penyedia platform digital yang mengatur seluruh ekosistem energi.
“Dulu, paradigma PLN adalah menjual listrik dan mengoptimalkan biaya. Sekarang PLN bertransformasi menjadi energy digital platform yang mengorkestrasi ekosistem energi melalui kolaborasi dan value creation,” ujar Darmawan.
Darmawan turut menilai bahwa sistem otomasi bangunan, penggunaan kendaraan listrik, serta instalasi PLTS Atap telah mengubah peran gedung dan rumah dari konsumen pasif menjadi produsen energi.
“Ke depan gedung dan rumah tidak lagi hanya memakai energi, tetapi mampu memproduksi dan mengelolanya sendiri. Karena itu PLN harus siap menghadapi ekosistem energi yang semakin digital dan dua arah,” imbuhnya.
Gedung Trapesium di Kantor Pusat PLN menjadi lokasi pertama penerapan teknologi ini dengan kapasitas PLTS atap 89,28 kilowatt peak yang terintegrasi dengan energy management system.
Fasilitas tersebut memudahkan pengawasan penggunaan listrik secara real-time dan memastikan pembagian energi berlangsung lebih efektif.
Komisaris Independen PLN Andi Arief menilai langkah ini sebagai wujud komitmen nyata perusahaan dalam melakukan penghematan energi secara internal.
“Kami ini perusahaan penjual energi. Tidak elok rasanya kalau bicara transisi energi kepada pelanggan, tetapi kantor kami sendiri masih boros. PLN harus menjadi etalase efisiensi energi itu sendiri,” ujar Andi.
Ia juga menekankan bahwa fokus pada aspek berkelanjutan merupakan strategi bisnis yang vital bagi masa depan dan bukan merupakan beban finansial.
“Sustainability bukan sekadar biaya tambahan, tetapi bagian dari efisiensi dan investasi masa depan perusahaan,” tambahnya.
Executive Vice President Umum dan Aset Properti PLN Khairullah memaparkan bahwa program ini terwujud berkat kolaborasi internal antara PLN Icon Plus dan Dana Pensiun PLN melalui metode managed service.
“Pada tahap awal 2026, PLN memulai implementasi di 10 gedung,” jelas Khairullah.
Untuk fase perdana, target yang dikejar adalah pemasangan PLTS Atap 1.100 kilowatt peak serta pemanfaatan 471 unit IoT Smart AC.
Dari total 1.300 gedung di seluruh Indonesia, sebanyak 400 gedung telah diidentifikasi memenuhi syarat untuk pemasangan panel surya.
Dalam peta jalan 2026–2035, PLN memproyeksikan total kapasitas PLTS Atap menyentuh angka 12 MWp.
Selain itu, ditargetkan penggunaan 7.251 unit IoT Smart AC yang diprediksi mampu menekan emisi hingga 0,3 juta ton karbon dioksida ekuivalen.
“Dalam roadmap 2026–2035, PLN menargetkan kapasitas PLTS Atap mencapai 12 megawatt peak, penggunaan 7.251 unit IoT Smart AC, serta kontribusi pengurangan emisi karbon hingga 0,3 juta ton CO2 equivalent,” pungkas Khairullah.