BANDUNG - Bupati Purwakarta Saiful Bahri Binzein mengakui karya musik berjudul "Lalaki Langit, Lalanang Bejat" yang sempat memicu perdebatan lahir dari pengalaman hidupnya saat usia muda.
Pengakuan tersebut disampaikan Saiful Bahri Binzein atau Om Zein ketika melakukan dialog bersama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Dalam percakapan tersebut, Dedi melontarkan pertanyaan apakah lagu itu memang merefleksikan kehidupan pribadi Om Zein yang dahulu dikenal sebagai figur "laki-laki bejat" atau "pengembara perempuan" sebelum menjabat sebagai pimpinan daerah.
Menjawab pertanyaan itu, Om Zein mengakui lagu tersebut memang mengisahkan tentang masa lalunya.
"Jadi, cerita tentang diri saya, waktu mudanya nakal sebelum jadi bupati itu nakal," ujar dari Sumbernya, dikutip dari kanal YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel dan telah dikonfirmasi ulang, Senin (6/7/2026).
Menurut Om Zein, karya tersebut merupakan cerminan perjalanan hidupnya sebelum terjun ke dalam dunia politik serta pemerintahan.
Mendengar pengakuan itu, Dedi lantas mengajak untuk memandang permasalahan tersebut dari perspektif lain.
Menurutnya, perilaku yang sama akan mendatangkan dampak sosial serta biologis yang jauh lebih berat apabila dialami oleh perempuan.
Menanggapi hal tersebut, Om Zein mengaku bersyukur dilahirkan sebagai seorang pria.
Dirinya bahkan berandai-andai jika memiliki sifat yang sama sebagai perempuan, hidupnya mungkin akan berakhir tragis sejak masa muda.
"Mungkin SMP kelas 3 sudah ke kuburan karena nakal," ucap dari Sumbernya.
Dirinya pun menuturkan, jika dirinya perempuan, mungkin akan lebih sibuk mempercantik diri guna memikat perhatian orang lain.
Menurutnya, situasi itu bisa membuatnya semakin terperosok apabila memperoleh keuntungan materi dari perilaku tersebut.
Meski mengapresiasi keterbukaan Om Zein, Dedi mengingatkan bahwa pengalaman personal yang sensitif sebaiknya tidak diungkapkan kepada khalayak tanpa mempertimbangkan konsekuensinya.
Menurut Dedi, permasalahan timbul saat kisah pribadi seorang pejabat publik ditafsirkan sebagai bentuk pelecehan terhadap martabat perempuan.
"Bapak hari ini adalah bupati, maka setiap ucapan dan tindakan seorang bupati akan selalu dipertanggungjawabkan kepada publik," tegas dari Sumbernya.
Setelah polemik tersebut, Om Zein melayangkan permohonan maaf kepada masyarakat serta menghapus lagu itu dari seluruh platform media sosial.
"Saya mohon maaf sebesar-besarnya atas itu karena saat itu saya buat tidak menyadarinya. Ketika ini menjadi kontroversi, saya salah dalam pemilihan itu," tuturnya.
Dirinya juga menyatakan kesiapan untuk melaksanakan arahan Dedi Mulyadi guna melakukan renovasi 10 hunian janda muda di Purwakarta menggunakan dana pribadi serta membantu menjamin pendidikan anak-anak mereka.
Langkah tersebut menjadi wujud tanggung jawab moral sekaligus komitmennya memperbaiki kekeliruan di masa lalu melalui tindakan yang berguna bagi penduduk.
"Saya sanggup (menjalankan sanksi sosial dari Gubernur)," pungkas dari Sumbernya.