Hilirisasi Baterai Jadi Kunci Masa Depan Antam di Era Mobil Listrik

Kamis, 02 Juli 2026 | 15:47:54 WIB
Groundbreaking Proyek Ekosistem Industri Baterai Kendaraan Listrik Terintegrasi Konsorsium ANTAM-IBC-CBL (FOTO: NET)

JAKARTA - Negara ini sekarang tengah bersemangat mendirikan jaringan pabrik baterai kendaraan listrik (EV) secara menyeluruh, sebagai usaha hilirisasi serta menambah nilai guna.

Upaya itu pun didukung dengan besarnya cadangan material dasar komponen baterai, yakni nikel.

Salah satu rencana ekosistem baterai terintegrasi hulu-hilir pun dijalankan oleh PT Aneka Tambang (ANTAM), Indonesia Battery Corporation (IBC), serta perusahaan asal China, yaitu Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd. (CBL) yang merupakan kerja sama antara CATL, Brunp, dan Lygend.

Agenda tersebut sebelumnya masuk ke dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan nilai investasi mencapai US$5,9 miliar atau sekitar Rp105,25 triliun (asumsi kurs Rp17.839 per dolar AS).

Rencana ini terdiri dari total enam usaha patungan (Joint Venture/JV) yang dimulai dari rencana hulu sampai hilir.

Detailnya, JV satu hingga tiga adalah ekosistem baterai di sektor hulu, sementara JV empat sampai enam merupakan ekosistem baterai di sektor hilir.

Sebelumnya Presiden Prabowo melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking rencana tersebut di Kawasan Artha Industrial Hills (AIH), Karawang, Jawa Barat.

Prabowo menyebut proyek baterai terintegrasi tersebut sebagai salah satu langkah penting dalam mendorong hilirisasi sumber daya alam Indonesia, khususnya komoditas nikel yang menjadi bahan baku utama baterai kendaraan listrik.

Pemerintah juga memproyeksikan rencana ini bakal menyerap sekitar 8.000 tenaga kerja langsung serta memicu pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitar melalui pembangunan berbagai sarana pendukung, termasuk kawasan industri dan dermaga multifungsi.

Sementara itu, Direktur Utama ANTAM Untung Budiharto menjelaskan perusahaan berkomitmen untuk menerima penugasan khusus dari pemerintah dalam rangka percepatan program hilirisasi nikel dan pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik nasional.

"Melalui berbagai proyek strategis yang terintegrasi, ANTAM tidak hanya meningkatkan nilai tambah, tetapi juga mendukung penguatan kemandirian industri nasional serta posisi Indonesia dalam rantai pasok industri global," ungkap dia dikutip dari Sumbernya Rabu (1/7/2026).

Tugas itu meliputi pengembangan ekosistem baterai terintegrasi berbasis nikel dari hulu hingga hilir, yang mencakup kegiatan pertambangan, pendirian pabrik RKEF/RKSBF, fasilitas HPAL, refinery, prekursor, katoda, battery cell, sampai fasilitas battery recycling.

Pembangunan ekosistem ini diharapkan bisa meningkatkan nilai guna sumber daya mineral nasional, memperluas sumber pendapatan Perseroan, memperkuat ketahanan bisnis jangka panjang, serta mendukung pertumbuhan berkelanjutan.

Tercatat sepanjang 2025, produksi bijih nikel ANTAM meraih angka sebesar 16,11 juta wet metric ton (wmt) atau melonjak 62% dibandingkan capaian produksi pada FY24 sebesar 9,94 juta wmt.

Dari sisi pemasaran, penjualan bijih nikel tercatat sebesar 14,58 juta wmt, meningkat 75% dibandingkan 2024 sebesar 8,35 juta wmt.

Didukung dengan naiknya permintaan domestik, 2025 menjadi penanda kinerja produksi serta penjualan bijih nikel ANTAM sebagai yang paling tinggi dalam lebih dari satu dekade terakhir sejak diterapkannya larangan ekspor mineral.

Sedangkan untuk produk feronikel di tengah perubahan aturan domestik sepanjang 2025, ANTAM mempertahankan kestabilan operasional dengan mencatatkan produksi sebesar 16.064 ton nikel dalam feronikel (TNi), dengan volume penjualan mencapai 10.528 TNi.

Terkini