JAKARTA - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengestimasikan penyaluran (lifting) minyak Indonesia sampai akhir tahun 2026 berada di rentang 600 ribu hingga 610 ribu barel per hari (bph).
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, mengungkapkan bahwa capaian produksi terangkut (lifting) minyak, kondensat, serta NGL hingga penutupan Mei 2026 menyentuh angka 576,2 ribu barel per hari. Rinciannya, produksi minyak mencapai 491,3 ribu bph, kondensat 55,8 ribu bph, dan NGL 29,1 ribu bph.
“Untuk lifting minyak tahun 2026, saat ini realisasinya 576 ribu bopd (barrels oil per day). Outlook hingga akhir tahun sekitar 600–610 ribu bopd. Untuk 2027 diperkirakan sekitar 602–615 ribu bopd, dan akan ditetapkan di antara kisaran tersebut,” ujar Djoko dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Rabu (3/6).
Sementara itu, untuk lifting atau penyaluran gas hingga 31 Mei 2026, volume produksi gas tercatat sebesar 6.550 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD), dengan realisasi penyaluran mencapai 5.207 MMSCFD.
Target lifting gas dalam APBN 2026 dipatok sebesar 5.508 MMSCFD, sehingga capaian saat ini telah mencapai 94,5% dari target tahun tersebut. Adapun untuk prospek tahun 2026, produksi gas diperkirakan menyentuh 6.787 MMSCFD, sedangkan penyaluran gas diprediksi berada di angka 5.400 MMSCFD.
Djoko juga memaparkan bahwa asumsi Indonesian Crude Price (ICP) tahun 2026 dipatok pada level US$86 per barel, sementara untuk tahun 2027 diperkirakan melandai menjadi US$80 per barel.
Di sisi lain, ia menerangkan bahwa realisasi produksi minyak yang masih minim di awal tahun disebabkan oleh sejumlah gangguan operasional.
Pada kuartal pertama, terjadi insiden kebocoran pipa milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) yang berdampak pada tujuh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di Terminal Dumai serta dua pemasok gas.
Sesudah gangguan tersebut ditangani, produksi sempat meningkat. Namun, di kuartal kedua muncul kendala baru berupa gangguan kelistrikan di wilayah kerja PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) serta penurunan produksi di Lapangan Banyu Urip.
“Kemudian setelah teratasi kembali naik, tetapi muncul lagi masalah kelistrikan di PHR dan penurunan produksi di Banyu Urip, dua blok migas yang menjadi penopang terbesar produksi nasional kami,” jelasnya.