JAKARTA – Penggunaan pendingin udara yang meningkat selama musim kemarau dinilai menjadi salah satu penyebab membengkaknya tagihan listrik rumah tangga.
Di tengah kondisi tersebut, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap dinilai berpotensi menjadi solusi untuk menekan konsumsi listrik dari jaringan PLN.
Direktur Program Transformasi Sistem Energi Deon Arinaldo mengatakan, PLTS atap sebenarnya telah menjadi pilihan bagi sebagian rumah tangga Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, pemanfaatannya belum berkembang optimal karena regulasi dan struktur tarif listrik yang dinilai belum cukup menarik untuk mendorong investasi masyarakat.
“PLTS atap sudah bisa jadi solusi dari kini bahkan sejak beberapa tahun lalu sempat jadi pilihan instalasi di rumah tangga. Hanya saja kondisi regulasi dan tarif listrik di Indonesia tidak terlalu mendukung untuk terus mendorong PLTS atap di rumah tangga,” kata Deon, Rabu (3/6/2026).
Deon menjelaskan, salah satu alasan utama masyarakat memasang PLTS atap adalah untuk mengurangi tagihan listrik bulanan.
Namun berbeda dengan sejumlah negara yang mengalami lonjakan tarif listrik, tarif listrik di Indonesia relatif stabil dalam beberapa tahun terakhir sehingga manfaat penghematan dari investasi PLTS atap menjadi kurang terasa.
Menurut Deon, kondisi tersebut membuat daya tarik pemasangan panel surya rumah tangga belum sekuat di negara-negara yang memiliki tarif listrik lebih tinggi.
Pemerintah juga masih memberikan kompensasi kepada PLN untuk menjaga tarif listrik tetap terjangkau bagi masyarakat.
Meski demikian, Deon menegaskan, musim kemarau justru menjadi periode yang paling menguntungkan bagi produksi listrik tenaga surya.
Intensitas sinar matahari yang lebih tinggi dan durasi penyinaran yang lebih panjang mampu meningkatkan produksi listrik PLTS meski suhu udara lebih panas.
“Efisiensi memang turun, tetapi tidak signifikan. Yang jauh lebih menentukan adalah intensitas sinar matahari,” ujar Deon.
Berdasarkan data produksi panel surya di wilayah Surabaya yang digunakan sebagai ilustrasi, produksi listrik PLTS pada periode Mei hingga September dapat mencapai sekitar 4.000 hingga 5.000 watt-jam per kilowatt terpasang per hari.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan musim hujan ketika radiasi matahari berkurang akibat tutupan awan.
Deon menilai pengembangan PLTS atap juga sejalan dengan rencana pemerintah yang menargetkan pembangunan 100 gigawatt energi surya dalam beberapa tahun ke depan.
Pemanfaatan atap bangunan dinilai menjadi salah satu cara tercepat menambah kapasitas energi surya nasional karena tidak memerlukan lahan baru.
Ia mengatakan, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral saat ini tengah mempertimbangkan pembaruan regulasi PLTS atap agar lebih mengakomodasi berbagai kelompok pelanggan, termasuk rumah tangga.
Menurut Deon, untuk pelanggan rumah tangga pemerintah dapat mempertimbangkan kembali skema ekspor listrik ke jaringan PLN atau memberikan insentif pemasangan baterai agar kelebihan listrik yang diproduksi pada siang hari dapat disimpan dan digunakan pada malam hari.
Selain mendorong pemanfaatan PLTS atap, Deon menekankan pentingnya efisiensi penggunaan listrik selama musim kemarau.
Berdasarkan survei Institute for Essential Services Reform (IESR) dalam proyek Sustainable Energy Transition in Indonesia (SETI), konsumsi listrik rumah tangga terbesar berasal dari kulkas sebesar 33 persen, disusul AC sebesar 26 persen dan kipas angin sekitar 14 persen.
Deon menjelaskan, penggunaan AC menjadi faktor utama yang memicu kenaikan tagihan listrik saat cuaca panas.
Karena itu, masyarakat disarankan mengatur suhu AC pada kisaran 24 hingga 25 derajat Celsius agar konsumsi listrik tetap terkendali.
“Kalau suhu diatur pada tingkat nyaman, sebenarnya AC tidak perlu bekerja terlalu keras dan mengonsumsi listrik berlebihan,” kata Deon.
Deon menambahkan, peningkatan penggunaan energi terbarukan juga penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah meningkatnya risiko cuaca ekstrem.
Menurut dia, seluruh jenis pembangkit listrik menghadapi tantangan akibat perubahan iklim, sehingga transisi menuju energi bersih menjadi kebutuhan jangka panjang.
“Transisi menuju energi terbarukan merupakan keharusan untuk menjaga ketahanan energi nasional dalam jangka panjang,” ujar Deon.