JAKARTA - Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) mendorong percepatan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) sebagai langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi beban keuangan negara.
Diketahui, saat ini ketidakpastian global dan fluktuasi kurs turut memberikan dampak terhadap harga dan pasokan energi global, termasuk di Indonesia.
Pelaksana tugas (Plt) Ketua METI, Norman Ginting mengatakan, situasi global saat ini membuat pasokan dan harga energi berbasis fosil semakin tidak menentu.
Ketergantungan yang tinggi terhadap energi fosil dinilai berpotensi meningkatkan risiko bagi perekonomian nasional, terutama ketika harga minyak dunia mengalami kenaikan dan nilai tukar rupiah berada dalam tekanan.
"Situasi global yang terjadi membuat energi fossil fuel semakin mahal dan langka. Sementara kami punya banyak potensi energi baru terbarukan yang ada di rumah kami, di tanah Indonesia," ungkap Norman dalam acara diskusi bertajuk Cheap & Clean Energy Now di Grha Pertamina, Selasa (2/6).
Ia melanjutkan, Indonesia sendiri memiliki sumber daya energi terbarukan yang sangat melimpah dan tersebar di berbagai wilayah.
Potensi tersebut mencakup energi panas bumi (geothermal), tenaga surya, tenaga air, biomassa, hingga tenaga angin.
Sebagai contoh, lanjut Norman, potensi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) nasional bahkan diperkirakan mencapai ribuan gigawatt, menjadikannya salah satu sumber energi masa depan yang sangat menjanjikan.
Kemudian, optimalisasi EBT akan menjadi fondasi penting memperkuat ketahanan energi.
Dengan meningkatnya porsi energi terbarukan dalam bauran energi nasional, ketergantungan terhadap impor dan penggunaan bahan bakar fosil dapat ditekan secara bertahap.
Selain memperkuat ketahanan energi, pengembangan EBT juga disebut mampu membantu pemerintah mengurangi beban subsidi energi yang selama ini masih didominasi sektor bahan bakar fosil.
Norman memperkirakan subsidi energi pada tahun ini dapat mencapai ratusan triliun, terutama akibat kenaikan harga minyak dunia dan penguatan dolar AS yang berdampak langsung terhadap biaya impor energi.
Dalam konteks tersebut, EBT dipandang sebagai solusi jangka panjang yang dapat menekan kebutuhan subsidi energi.
Salah satu langkah yang dinilai efektif adalah pembangunan PLTS di berbagai daerah yang saat ini masih mengandalkan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD).
Lebih lanjut, Norman menekankan pentingnya pengembangan bioenergi sebagai bagian dari strategi transisi energi nasional.
Program pencampuran bahan bakar berbasis biofuel dinilai dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil impor sekaligus meningkatkan pemanfaatan sumber daya dalam negeri.
Menurut Norman, pengembangan biofuel dapat dilakukan secara bertahap melalui penerapan campuran etanol mulai dari E-10 hingga E-20.
Sementara itu, pada sektor biodiesel, Indonesia telah menerapkan program B-40 dan tengah mempersiapkan peningkatan menuju B-50.