JAKARTA – PLN Energi Primer Indonesia (EPI) memulai inisiasi kemitraan dalam pengembangan bioenergi berbasis tanaman sorgum bersama PT Sorbu Agro Energi demi menyokong agenda transisi energi nasional dan target net zero emission (NZE).
Direktur Biomassa PLN Energi Primer Indonesia, Hokkop Situngkir, menerangkan bahwa biomassa mempunyai kelebihan dalam menekan emisi karbon secara berorientasi lewat substitusi batu bara pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
"Berbeda dengan energi terbarukan lain yang bersifat menggantikan, biomassa mampu mereduksi emisi secara langsung. Substitusi sebagian penggunaan batu bara dengan biomassa menjadi langkah nyata dalam menurunkan emisi," ujarnya dalam keterangan di Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Berdasarkan penjelasan Hokkop, langkah memajukan bioenergi dari sorgum ini sejalan dengan agenda Astacita pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan serta energi nasional.
Ia memaparkan bahwa sejumlah negara layaknya Jepang dan Korea Selatan saat ini semakin masif mendongkrak pemakaian biomassa sekaligus berburu sumber pasokan anyar demi mencukupi kebutuhan energi mereka.
Sejauh ini, PLN Energi Primer Indonesia dilaporkan sudah mengolah berkisar 14 macam biomassa demi keperluan cofiring PLTU.
Pihak perusahaan pun telah mengamankan kontrak pasokan biomassa mencapai kisaran 1 juta ton lewat jalinan hampir 100 kemitraan.
Komitmen dari kedua belah pihak tersebut dikukuhkan lewat prosesi penandatanganan nota kesepahaman di Jakarta pada Senin (18/5/2026).
Lewat kemitraan ini, PLN EPI memegang peran selaku offtaker biomassa sekaligus pengembang ekosistem energi primer, sedangkan aktivitas budi daya bakal digarap oleh pihak mitra.
"Kami berfokus pada penyediaan dan penyerapan biomassa untuk pembangkit. Untuk sektor budi daya, kami bekerja sama dengan mitra agar tercipta ekosistem yang berkelanjutan," tambah Hokkop.
Direktur PT Sorbu Agro Energi, Verdi Budiman, mengutarakan bahwa pihaknya saat ini mengoperasikan konsesi lahan dengan luas berkisar 10.000 hektare di Gorontalo, disertai potensi perluasan hingga 40.000 hektare lewat skema program perhutanan sosial.
Fase perdana dari proyek pengembangan ini bakal digulirkan di Desa Totopo pada area seluas 218 hektare, yang memiliki jarak sekitar 56 kilometer dari PLTU Anggrek.
Verdi menyebutkan bahwa proyek tersebut mengimplementasikan metode pentaheliks yang memadukan peran dari pemerintah, BUMN, masyarakat, pihak swasta, kalangan akademisi, dan juga media.
"Kami diharapkan menjadi lokomotif program perhutanan sosial berbasis ekosistem terintegrasi yang mencakup energi biomassa, peternakan, biogas, dan produk turunan lainnya. Kolaborasi ini akan melibatkan berbagai pihak, termasuk PLN EPI dan Fakultas Pertanian Universitas Negeri Gorontalo," ujarnya.
Cakupan dari kerja sama ini meliputi studi pengembangan bioenergi, pendirian biomass hub di wilayah Sulawesi, analisis teknologi, hingga pemanfaatan potensi sumber daya hayati lainnya demi menyokong transisi energi.
Hokkop berpandangan bahwa terobosan pengembangan bioenergi sorgum tersebut menjadi sebuah tindakan nyata dalam menciptakan ekosistem energi bersih yang berbasis pada kerakyatan.
Daya dukung lokal itu dipercaya mampu diolah menjadi jalan keluar global dalam menekan emisi, mengokohkan ketahanan energi, sekaligus mendongkrak taraf kesejahteraan masyarakat.