Antisipasi Krisis Global, RI Percepat Transisi Energi dan Impor

Selasa, 19 Mei 2026 | 15:14:34 WIB
Purnomo Yusgiantoro (FOTO: NET)

JAKARTA - Eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang dipicu oleh pertikaian antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel mulai memantik kekhawatiran seputar ancaman krisis energi di skala dunia.

 Ancaman tersendatnya jalur distribusi minyak global via Selat Hormuz bahkan diprediksi mampu meroketkan harga minyak mentah sampai menembus angka di atas US$100 per barel.

Ketua Umum DPP Ikatan Alumni Lembaga Ketahanan Nasional (IKAL Lemhannas) Masa Jabatan 2026-2031, Purnomo Yusgiantoro, memaparkan bahwa Selat Hormuz bertindak sebagai jalur krusial bagi sirkulasi energi dunia lantaran mengalirkan hampir 20 persen dari agregat pasokan minyak global.

“Konflik yang terjadi menyebabkan distribusi minyak dunia terganggu. Selat Hormuz menjadi key of the game dalam kebutuhan minyak dunia,” ujar Purnomo di sela pelantikannya sebagai Ketua Umum IKAL Lemhannas di Gedung Lemhannas, Jakarta, Senin (18/5/2026).

Purnomo yang saat ini juga diamanahi peran sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Energi itu menguraikan bahwa melesatnya harga minyak bakal memicu dampak berantai yang masif bagi perekonomian dunia, termasuk mendongkrak tarif energi serta ongkos logistik komoditas pokok lainnya. 

Situasi tersebut mendesak banyak negara untuk mulai memperkokoh formula ketahanan energi domestik mereka masing-masing.

Purnomo mengonfirmasi bahwa pemerintah Indonesia saat ini terus memacu akselerasi transisi ke arah energi baru terbarukan (EBT) sebagai langkah taktis jangka panjang guna menyiasati ketidakpastian pasar energi global. 

Walau demikian, tahapan perpindahan sektor energi tersebut tidak dapat dieksekusi secara mendadak.

“Indonesia menuju net zero emission pada 2060. Jadi transisi energi membutuhkan waktu,” katanya.

Di samping memacu pengerjaan energi bersih, pemerintah juga mengeksekusi strategi diversifikasi asal usul pasokan minyak serta bahan energi dari bermacam-macam negara produsen. 

Bersandarkan penjelasan Purnomo, Indonesia sekarang tidak semata menggantungkan pasokan dari kawasan Timur Tengah, melainkan turut membuka kans kolaborasi energi bersama Rusia, Amerika Serikat, hingga area Amerika Latin.

Ia mengimbuhkan bahwa kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang membuka celah kerja sama impor minyak dari Rusia menjadi bagian dari strategi operasional demi memelihara stabilitas ketersediaan energi di dalam negeri.

Terkini