TEHERAN - Pihak berwenang Iran dikabarkan telah menahan sebuah kapal kepunyaan korporasi keamanan swasta asal China di area dekat Selat Hormuz. Insiden tersebut menjadi peristiwa penyitaan perdana terhadap armada keamanan swasta semenjak meletusnya gesekan bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Pemilik armada, Sinoguards Marine Security, membenarkan bahwa proses penahanan kapal mereka dilangsungkan oleh otoritas Iran pada Kamis (14/5/2026). Peristiwa ini bergulir simultan dengan momentum pertemuan puncak (KTT) antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing, serta hanya berjarak satu hari pasca-sebuah kapal tanker China diperbolehkan melintasi selat tersebut.
Kapal sempat berlabuh di UEA
Disadur dari The Wall Street Journal, Sabtu (16/6/2026), kapal yang ditahan itu memiliki nama Hui Chuan dan mengarungi lautan di bawah bendera Honduras. Sebelum digiring, kapal itu tengah lego jangkar di luar kawasan Selat Hormuz, berkisar 38 mil laut di sisi timur laut area Fujairah, Uni Emirat Arab (UEA). Pihak Sinoguards yang bermarkas di Hong Kong memaparkan, otoritas Iran pada mulanya mendesak mereka demi menunjukkan kelengkapan dokumen resmi sekaligus melangsungkan inspeksi kepatuhan. Pihak Iran selanjutnya mengawal kapal Hui Chuan masuk ke dalam batas wilayah perairan mereka.
Gudang senjata terapung di lepas pantai
Menilik pada laman resminya, Sinoguards ialah vendor penyedia jasa pengawalan bersenjata demi memayungi kapal-kapal niaga yang berlayar dari Fujairah serta lima titik strategis lainnya di kawasan Asia dan Afrika.
Salah satu tayangan video di laman perusahaan memperlihatkan dua orang personel Sinoguards menaiki kapal tanker milik Cosco Shipping, korporasi pelayaran raksasa milik negara China di Teluk Oman dengan memboyong senapan serbu jenis AK-47, amunisi, rompi antipeluru, beserta helm militer.
Ketatnya regulasi serta pembatasan kepemilikan senjata api di area pelabuhan di sepanjang Teluk Persia dan Teluk Oman memaksa jajaran perusahaan keamanan swasta memutar otak dengan menaruh logistik militer mereka di lepas pantai atau di atas wadah "gudang senjata terapung". Berkas dokumentasi foto Sinoguards memperlihatkan puluhan pucuk senapan serbu yang ditampung di atas kapal tipe tersebut.
Sinoguards didirikan pada tahun 2013 oleh Mario Yun Zhou, seorang alumnus hukum pelayaran dari Universitas Maritim Shanghai yang juga terdata selaku CEO korporasi keamanan kontrak di Irak. Saat dimintai konfirmasi, Zhou menolak memberikan respons mendalam perihal apakah kapal Hui Chuan tengah berperan sebagai gudang senjata terapung tatkala disita.
"Sinoguards beroperasi di bawah otorisasi negara bendera yang berlaku dan persyaratan peraturan yang relevan dengan ruang lingkup operasionalnya," jawab Zhou diplomatis melalui profil LinkedIn-nya.