Harga Minyak Dunia Tembus 105 Dolar AS Akibat Perang

Selasa, 12 Mei 2026 | 15:53:51 WIB
ILUSTRASI. Harga minyak (FOTO: NET)

JAKARTA - Sejumlah perusahaan minyak dan gas bumi (migas) dunia sukses meraih laba besar menyusul ketegangan antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran.

Kondisi peperangan ini menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak mentah di kancah internasional.

Berdasarkan laporan BBC pada Senin (11/5/2026), harga minyak mentah jenis Brent naik 3,8 persen hingga mencapai level 105,20 dolar AS per barel.

Pada waktu yang sama, harga minyak mentah di pasar Amerika Serikat juga melonjak 4 persen ke posisi 99,30 dolar AS per barel.

Situasi tidak menentu akibat konflik Timur Tengah serta penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah memicu pembengkakan biaya hidup yang memberatkan perusahaan, rumah tangga, hingga kas negara.

Saat banyak pelaku usaha terancam gulung tikar, korporasi yang fokus bisnisnya diuntungkan oleh perang atau perubahan harga energi justru meraih pendapatan yang luar biasa.

Hingga kini, kenaikan harga energi menjadi efek ekonomi paling signifikan dari konflik bersenjata tersebut.

Kendala distribusi di Selat Hormuz yang berlangsung sejak akhir Februari memicu fluktuasi harga sangat ekstrem, yang membawa keuntungan bagi perusahaan migas global.

Aramco, raksasa migas Arab Saudi, mencatat kenaikan laba kuartal pertama 2026 sebesar 26 persen menjadi 33,6 miliar dolar AS, naik dari 26,6 miliar dolar AS di tahun lalu.

Pertumbuhan ini didorong optimalisasi jalur pipa utama yang membuat perusahaan mampu menghindari gangguan di Selat Hormuz.

“Jalur Pipa Timur-Barat kami, yang telah mencapai kapasitas maksimum 7 juta barel minyak per hari, telah terbukti menjadi jalur pasokan penting, membantu mengurangi dampak guncangan energi global dan memberikan bantuan kepada pelanggan yang terkena dampak kendala pengiriman di Selat Hormuz,” ujar CEO Aramco, Amin Nasser dalam sebuah pernyataan.

Selain Aramco, raksasa migas Eropa juga mencatatkan pertumbuhan laba pada kuartal pertama tahun ini, di mana keuntungan British Petroleum (BP) melonjak dua kali lipat lebih hingga 3,2 miliar dolar AS.

Shell juga melaporkan laba bersih pada kuartal I 2026 yang meroket tajam hingga menyentuh angka 6,92 miliar dolar AS.

Perusahaan internasional lainnya, TotalEnergies, mengumumkan kenaikan laba hampir sepertiga menjadi 5,4 miliar dolar AS pada periode yang sama.

Kenaikan tersebut dipicu oleh tingginya volatilitas yang terjadi di pasar minyak dan energi secara global.

Sebaliknya, pendapatan raksasa AS seperti ExxonMobil dan Chevron justru merosot dibanding tahun lalu karena terganggunya pasokan dari Timur Tengah.

Namun, para pengamat memperkirakan laba keduanya akan kembali naik sepanjang tahun ini karena harga minyak tetap bertahan di level tinggi sejak awal perang.

Terkini