JAKARTA – CATL raih kesepakatan baterai garam pertama untuk proyek penyimpanan energi skala besar guna menekan biaya dan ketergantungan pada litium.
Langkah strategis ini menandai pergeseran besar dalam industri penyimpanan energi global yang selama ini didominasi oleh material litium yang harganya fluktuatif.
Pihak CATL mengonfirmasi bahwa penggunaan teknologi natrium-ion atau baterai garam menjadi solusi paling masuk akal untuk menjaga stabilitas pasokan listrik jangka panjang.
"Kesepakatan ini merupakan tonggak sejarah bagi komersialisasi teknologi natrium-ion kami dalam skala yang sangat besar," ujar juru bicara CATL, sebagaimana dilansir dari sumbernya, Selasa (28/4/2026).
Manajemen perusahaan meyakini bahwa keunggulan utama dari teknologi ini terletak pada ketahanan suhu rendah dan tingkat keamanan yang jauh lebih tinggi.
CATL menegaskan, pasokan bahan baku garam yang melimpah secara global bakal menjamin keberlanjutan produksi tanpa harus berebut sumber daya litium yang terbatas.
"Kami berkomitmen untuk mempercepat transisi energi global dengan menyediakan teknologi yang lebih terjangkau namun tetap memiliki performa tinggi," tegas eksekutif senior CATL dalam pernyataan resminya.
Perusahaan ini berencana mengintegrasikan sistem penyimpanan energi berbasis natrium-ion tersebut ke dalam jaringan listrik nasional untuk mendukung penggunaan energi terbarukan.
Sektor industri menyambut positif langkah ini karena biaya operasional baterai garam diprediksi 30 persen lebih murah dibandingkan baterai konvensional.
Keberhasilan proyek perdana ini diperkirakan akan memicu gelombang adopsi teknologi serupa oleh produsen kendaraan listrik dan penyedia infrastruktur energi lainnya.