Nissan Gandeng Gelion Bikin Baterai EV Murah Saingi China

Sabtu, 06 Juni 2026 | 19:20:42 WIB
Nissan dan Gelion kembangkan baterai EV solid (FOTO: NET)

TIONGKOK - Nissan terlibat aktif dalam sebuah proyek riset untuk menciptakan baterai solid-state yang diklaim memiliki biaya produksi jauh lebih murah ketimbang teknologi baterai komersial yang dikuasai oleh produsen asal China saat ini.

Proyek strategis tersebut dijalankan bersama dengan Gelion, sebuah perusahaan inovasi teknologi dari Australia, serta melibatkan University of Oxford.

Inovasi yang dipegang oleh Gelion dipandang mampu menjadi faktor penentu bagi Nissan dalam memproduksi serta menjual kendaraan elektrik dengan harga yang lebih kompetitif dari buatan pabrikan China.

Nissan menaruh harapan besar pada lompatan teknologi sel baterai ini sebagai pilar utama dari rencana kebangkitan bisnis mereka, terutama di tengah situasi sulit saat pabrikan otomotif Jepang sedang berupaya keras merebut kembali dominasi di pasar global.

Berdasarkan data dari laporan electrek, riset yang berjalan selama tiga tahun ini dinamai proyek Cost-effective, Resilient Solid-state Li-S yang mempertemukan keahlian Gelion, Nissan Technical Center Europe (NTCE), serta University of Oxford.

Lewat kombinasi antara material katoda berbahan dasar sulfur milik Gelion yang disebut NES (Nano-Encapsulated Sulfur) dengan kompetensi Nissan dalam merancang baterai solid-state, kolaborasi ini ditargetkan mampu memproduksi generasi anyar baterai mobil listrik yang lebih aman, ekonomis, serta memiliki daya tahan tinggi.

Penerapan teknologi NES dari Gelion berhasil menghilangkan ketergantungan pada komponen mahal seperti nikel dan kobalt dengan memanfaatkan sulfur yang nilainya jauh lebih ekonomis dan memiliki ketersediaan melimpah di alam.

Pihak Nissan, Gelion, bersama University of Oxford kedepannya akan mengintegrasikan seluruh kapabilitas mereka demi mematangkan modul baterai lithium-sulfur solid-state yang memiliki keluaran daya serta kapasitas penyimpanan yang besar.

Meskipun investasi keseluruhan untuk pengerjaan proyek ini mencapai kisaran US$4,5 juta (£3,4 juta), Gelion menyatakan bahwa pihak konsorsium bakal menerima suntikan dana hibah bersama senilai US$3,2 juta (£2,4 juta).

Mengutip publikasi riset hari Kamis yang berjudul “Cheaper Than China”, Longspur Capital Limited memberikan analisis: Gelion berhasil mengembangkan platform material katoda baterai yang menawarkan manfaat baterai lithium-ion berkinerja tinggi, namun dapat diproduksi di negara-negara Barat dengan biaya lebih murah dibandingkan China saat ini, sehingga menciptakan persaingan yang lebih seimbang di sektor strategis ini.

Gelion juga telah menunjukkan bukti bahwa performa dari inovasi katoda berbasis sulfur mereka membawa lompatan performa yang sangat berarti bila dibandingkan dengan baterai lithium-ion maupun baterai sodium-ion.

Riset tersebut pun menitikberatkan bahwa salah satu evolusi paling krusial untuk mendongkrak performa tinggi terletak pada komponen elektrolit solid-state, dan Gelion saat ini tengah memformulasikan teknologi katoda yang mampu memenuhi spesifikasi tersebut.

Perusahaan teknologi tersebut menargetkan penyelesaian purwarupa untuk kebutuhan komersial pada tahun fiskal 2027, di mana lini masa ini sejalan dengan cetak biru Nissan yang ingin meluncurkan mobil listrik perdana berbasis baterai solid-state pada tahun 2028.

Mengacu pada studi Longspur Capital, Nissan diproyeksikan bakal memanfaatkan secara maksimal teknologi sulfur kepunyaan Gelion agar lini produk EV solid-state mereka memiliki daya saing kuat guna menghadapi ekspansi masif dari manufaktur asal China.

Adrien Amigues selaku Presiden Gelion untuk area UK dan Eropa yang memimpin jalannya riset ini menyampaikan bahwa proyek tersebut memiliki peluang besar untuk mengubah peta kompetisi industri bagi Inggris, Nissan, sekaligus Gelion.

“Teknologi kami sangat cocok untuk baterai solid-state,” ujarnya.

Nissan sendiri sebenarnya telah mulai mengoperasikan jalur produksi percontohan untuk baterai EV solid-state pertamanya di area pabrik Yokohama, Jepang, sejak Januari 2025 dengan menggandeng mitra asal AS, LiCAP Technologies, untuk persiapan fase produksi massal.

Mengandalkan inovasi Activated Dry Electrode dari LiCAP yang mampu mengeliminasi tahapan pengeringan yang panjang serta membuang penggunaan cairan pelarut, Nissan sangat percaya diri bahwa mereka memegang kendali penuh atas efisiensi biaya dan juga proses manufaktur.

Hingga detik ini, raksasa otomotif Nissan memang masih menutup rapat rincian spesifikasi teknis baterai tersebut kepada publik.

Kendati demikian, sejumlah pengamat meyakini bahwa teknologi baterai solid-state ini sanggup mendongkrak jarak tempuh berkendara hingga dua kali lipat dari kemampuan baterai lithium-ion konvensional, bahkan digadang-gadang sanggup membawa kendaraan melaju sejauh lebih dari 1.000 kilometer hanya dalam satu kali pengisian daya sampai penuh.

Di kala Nissan masih dalam tahap merajut kemitraan strategis baru untuk mematangkan dan memproduksi massal baterai solid-state, beberapa produsen kendaraan listrik di China dikabarkan justru sudah berada pada fase uji coba jalanan menggunakan prototipe teknologi mutakhir tersebut.

Bahkan dalam jangka waktu beberapa bulan ke depan, sejumlah pabrikan papan atas asal China, termasuk BYD, dirumorkan segera meluncurkan mobil listrik terbaru mereka yang telah mengadopsi sistem baterai solid-state.

Pada April yang lalu, Lian Yubo selaku kepala ilmuwan dari BYD memaparkan bahwa pengembangan baterai mobil listrik yang murni solid-state saat ini telah menembus “tahap krusial”, walaupun dirinya tidak menampik bahwa jalan menuju proses produksi massal masih diadang oleh berbagai tantangan teknis yang berat.

Pihak BYD sendiri diketahui fokus mengembangkan teknologi baterai solid-state dengan basis material sulfida.

Produsen otomotif tersebut mengagendakan dimulainya fase perakitan dalam volume terbatas pada tahun depan, sebelum akhirnya mengeksplorasi peningkatan kapasitas menuju produksi massal skala penuh yang ditargetkan bergulir pada tahun 2030.

Sun Huajun yang menjabat sebagai CTO divisi baterai BYD sempat menjelaskan pada tahun lalu bahwa komponen elektrolit jenis sulfida memiliki masa pakai yang jauh lebih panjang serta karakteristik stabilitas yang lebih unggul jika dikomparasikan dengan baterai lithium-ion cair tipe lama.

Inovasi teranyar ini diklaim mampu mewujudkan sel baterai yang jauh lebih aman, waktu pengisian daya yang lebih singkat, sekaligus durasi pemakaian yang jauh lebih awet.

Selain mengucurkan dukungan terhadap investasi Nissan pada kompleks pabrik di Sunderland, Inggris, pabrikan otomotif tersebut pada hari Rabu juga mengonfirmasi penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan Chery International demi mengeksplorasi potensi perakitan mobil bagi pabrikan asal China tersebut di fasilitas manufaktur yang sama.

Terkini