IPA Soroti 3 Poin Utama Demi Genjot Investasi Hulu Migas Nasional

Rabu, 13 Mei 2026 | 11:42:09 WIB
Direktur Eksekutif IPA Marjolijn Wajong dalam acara konferensi pers “Road to IPA Convex 2026”. (Sumber Foto:NET)

JAKARTA - Para pelaku usaha hulu minyak dan gas bumi yang tergabung dalam Indonesian Petroleum Association (IPA) memberikan penekanan pada tiga aspek utama yang memengaruhi daya saing serta investasi di Indonesia.

IPA memandang potensi hulu migas nasional masih sangat menjanjikan, namun tetap memerlukan aktivitas eksplorasi yang masif. 

Marjolijn Wajong selaku Direktur Eksekutif IPA memaparkan bahwa peluang Indonesia guna menambah cadangan dan produksi nasional masih terbuka lebar. Hal tersebut berlandaskan pada data bahwa lebih dari separuh cekungan migas di tanah air belum tersentuh kegiatan eksplorasi.

Tantangan terbesarnya adalah lokasi cekungan yang terletak di area sulit dijangkau, sehingga butuh modal besar untuk pengembangannya.

"Lokasi (cekungan) itu di tempat laut dalam, atau di (daerah) timur yang infrastrukturnya masih kurang. Di daerah barat yang cukup banyak infrastruktur, tapi tingkat kesulitan teknis besar. Pada umumnya (di lokasi) yang sulit, jadi memerlukan teknologi dan biaya yang besar," ungkap Marjolijn dalam konferensi pers IPA Convex 2026, Selasa (12/5/2026).

Marjolijn menegaskan bahwa Indonesia tidak dapat sekadar mengandalkan lapangan lama, melainkan wajib menemukan cadangan baru demi mengejar target produksi nasional.

"Tidak cukup hanya mengandalkan proyek yang sudah berjalan. Diperlukan eksplorasi yang lebih agresif serta kolaborasi erat antara pemerintah dan pelaku industri," tegasnya.

Mengingat risikonya yang tinggi, IPA menyoroti tiga poin krusial demi menarik minat investor global. Poin pertama yakni kepastian hukum, di mana Marjolijn menekankan pentingnya ruang diskusi dan kompensasi apabila terjadi perubahan regulasi di tengah masa kontrak. Ia mencontohkan terkait aturan devisa hasil ekspor serta pengaturan penjualan bagian kontraktor.

"Kami memahami, peraturan-peraturan itu dibuat pasti ada sebabnya. Tetapi mungkin ada semacam negosiasi atau kompensasi seperti apa bisa dibicarakan sehingga bisnis tetap dalam keadaan baik," ujar Marjolijn.

Poin kedua berkaitan dengan percepatan perizinan karena kecepatan proses itu sangat menentukan realisasi produksi serta nilai ekonomi proyek.

"Investor kan menaruh uang, dia mau kembalinya cepat, jadi produk juga harus cepat. Kalau proses (perizinan) lama, itu akan membuat keekonomian dan daya tarik berkurang," imbuh Marjolijn.

Poin ketiga yakni skema fiskal yang kompetitif demi mendongkrak keekonomian proyek migas.

"Kami memerlukan terobosan-terobosan baru untuk membuat fiskal lebih menarik. Kami ingin pemerintah untuk memperbaiki (tiga hal) itu. IPA juga sedang melakukan studi untuk melihat di negara lain seperti apa ketiga hal tersebut," ujar Marjolijn.

Sementara itu, IPA akan kembali menggelar Convention and Exhibition (Convex) ke-50 dengan tema kemitraan energi bagi masa depan.

Ketua Panitia IPA Convex 2026, Teresita Listyani, menyebutkan bahwa acara tersebut melibatkan seluruh ekosistem migas mulai dari kontraktor hingga regulator. 

Agenda ini pun akan menjadi ajang berbagai pengumuman penting serta penandatanganan perjanjian komersial sektor hulu migas.

"Kami ingin IPA Convex menjadi platform yang menghasilkan kolaborasi nyata dan mendorong percepatan investasi, khususnya di sektor hulu migas Indonesia yang masih memiliki potensi sangat besar," kata Teresita.

Kegiatan yang diikuti lebih dari 200 peserta pameran tersebut akan membahas isu strategis mulai dari teknologi hingga transisi energi. Bekerja sama dengan Dyandra Promosindo, IPA Convex 2026 dijadwalkan berlangsung pada 20-22 Mei 2026 di ICE BSD.

Terkini