Niat Puasa Ramadhan 2026 Sebulan Penuh & Sehari Lengkap dengan Artinya

Sabtu, 14 Februari 2026 | 09:32:49 WIB
niat puasa ramadhan

Jakarta - Niat puasa Ramadhan merupakan salah satu syarat utama yang harus dipenuhi oleh setiap Muslim sebelum memulai ibadah puasa.

Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk menyiapkan diri dengan mengingat kembali bacaan niat puasa Ramadhan 2026.

Dalam praktiknya, tata cara melafalkan niat berbeda antara puasa wajib dan puasa sunnah. Perbedaan juga terlihat di berbagai mazhab terkait waktu dan metode melafalkan niat.

Memahami bacaan niat, waktu yang tepat, serta hukum melafalkannya sangat penting agar ibadah puasa yang dijalankan sah dan sesuai syariat.

Dengan pemahaman yang benar, setiap Muslim dapat menunaikan ibadah dengan khusyuk dan penuh kesadaran, menjadikan niat puasa Ramadhan sebagai landasan utama dalam berpuasa.

Apa Itu Niat Puasa Ramadan?

Niat puasa Ramadan merupakan tekad dalam hati untuk menunaikan ibadah puasa di bulan suci karena mengharap ridha Allah SWT. 

Niat tidak wajib diucapkan dengan suara, namun disunnahkan untuk dilafalkan agar lebih mantap dan sadar dalam pelaksanaannya.

Tanpa adanya niat, puasa yang dilakukan seseorang tidak dianggap sah, meskipun ia menahan lapar dan dahaga sepanjang hari.

Keutamaan Memiliki Niat dalam Puasa Ramadan

Memiliki niat sebelum berpuasa bukan sekadar formalitas, tetapi memiliki beberapa manfaat penting:

  • Menegaskan bahwa puasa merupakan bentuk ibadah yang dilakukan karena Allah
  • Memberikan nilai pahala pada ibadah puasa yang dijalankan
  • Mencegah puasa menjadi sekadar menahan lapar dan haus tanpa makna spiritual

Rasulullah ? menegaskan dalam sabdanya:
"Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya." (HR. Bukhari & Muslim)

Bacaan Niat Puasa Ramadhan

Beberapa bacaan yang biasa digunakan oleh umat Muslim sebelum memulai ibadah puasa dapat dijadikan pedoman, salah satunya adalah niat puasa ramadhan.

1. Niat Puasa Ramadhan Sepanjang Bulan
Arab latin: Nawaitu shauma jami’i syahri ramadhani hadzihis sanati fardhan lillahi ta’ala.
Maknanya: “Saya berniat menjalankan ibadah puasa selama bulan Ramadhan tahun ini sebagai kewajiban karena Allah Ta’ala.”

2. Niat Puasa Ramadhan untuk Satu Hari
Arab latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i fardhi syahri Ramadhana hadzihis sanati lillahi ta’ala.
Maknanya: “Saya berniat menjalankan puasa esok hari sebagai kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah Ta’ala.”

Waktu yang Tepat untuk Membaca Niat Puasa

Dalam menjalankan puasa wajib, seperti puasa Ramadhan, seseorang diwajibkan untuk meniatkan puasa sebelum hari itu dimulai. 

Jika niat baru diingat setelah waktu Subuh, maka puasa hari tersebut tidak sah menurut mayoritas ulama.

Para ulama menjelaskan bahwa waktu yang dianjurkan untuk membaca niat puasa Ramadhan adalah pada malam hari, yaitu mulai setelah Maghrib hingga sebelum fajar atau Subuh. 

Hal ini didasarkan pada sabda Nabi Muhammad SAW:
"Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak sah puasanya." (HR. An-Nasa’i dan Abu Dawud)

Hadis lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban menegaskan:
"Sesungguhnya niat puasa adalah pada malam hari. Barangsiapa berbuka sebelum meniatkan puasa di malam hari, maka tidak ada puasa baginya." (HR. Ibnu Hibban)

Mayoritas ulama, termasuk Mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hanbali, sepakat bahwa niat puasa wajib harus dilakukan pada malam hari. Mazhab Syafi’i menekankan bahwa niat puasa Ramadhan harus diucapkan setiap malam. 

Dalam kitab Hasyiyatul Iqna’, Syekh Sulaiman Al-Bujairimi menjelaskan:
"Disyaratkan berniat di malam hari bagi puasa wajib, baik itu puasa Ramadhan, qadha, maupun nadzar. 

Ini berdasarkan hadis Nabi SAW: ‘Siapa yang tidak berniat di malam hari sebelum fajar, maka tidak ada puasanya.’ Oleh karena itu, setiap hari di bulan Ramadhan harus berniat sesuai teks hadis."

Sementara itu, Mazhab Maliki memiliki pandangan berbeda, yaitu cukup berniat sekali pada malam pertama Ramadhan untuk seluruh bulan, karena puasa Ramadhan dianggap sebagai satu rangkaian ibadah. 

Pendapat ini dicatat oleh Yusuf Al-Qaradlawi dalam Fiqh al-Shiyam.

Mazhab Hanafi membolehkan niat puasa dilakukan setelah fajar sampai sebelum Dzuhur, selama orang tersebut belum melakukan hal yang membatalkan puasa. 

Namun, untuk puasa Ramadhan, pendapat mayoritas tetap menekankan bahwa niat harus dilakukan sebelum fajar agar sah.

Sebagai langkah kehati-hatian, beberapa ulama menyarankan agar tetap meniatkan puasa setiap malam sebagaimana pendapat Mazhab Syafi’i, sekaligus mempertimbangkan pendapat Mazhab Maliki untuk niat sekali sebulan penuh sebagai antisipasi jika ada yang lupa.

Apakah Niat Puasa Harus Dilafalkan?

Sering muncul pertanyaan mengenai apakah niat puasa Ramadhan harus diucapkan secara lisan atau cukup disimpan dalam hati. 

Di masyarakat, sebagian orang beranggapan bahwa lafalan niat diperlukan agar puasanya sah, sementara yang lain berpendapat bahwa niat yang tertanam dalam hati sudah memadai.

Para ulama sepakat bahwa niat merupakan salah satu rukun utama dalam menjalankan puasa. Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ menegaskan bahwa niat yang ada dalam hati sudah mencukupi, sehingga tidak wajib diucapkan. 

Selain itu, kitab I’anatut Thalibin menjelaskan bahwa melafalkan niat hukumnya sunnah, bukan syarat sah puasa.

Dengan demikian, setiap muslim wajib meniatkan puasa di dalam hati. Melafalkan niat hanya dianjurkan sebagai sunnah, yang berfungsi untuk memperkuat tekad dan kesungguhan dalam beribadah.

Tata cara mengucapkan niat puasa yang benar

Berdasarkan informasi dari situs resmi Baznas, agar puasa diterima dan sah di sisi Allah SWT, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan:

  1. Melakukan niat sebelum fajar untuk puasa wajib
    Bagi puasa wajib seperti Ramadan, puasa nazar, maupun qada yang tertinggal, niat sebaiknya dilakukan pada malam hari sebelum fajar. Hal ini memastikan puasa hari tersebut sah secara syariat.
  2. Niat dalam hati sudah cukup, tetapi dianjurkan dilafalkan
    Secara syariat, meniatkan puasa di dalam hati sudah sah. Namun, melafalkan niat dapat membantu memperkuat kesungguhan dan kekhusyukan saat beribadah.
  3. Hindari keraguan saat berniat
    Jika ada rasa ragu setelah melafalkan niat, sebaiknya segera mengulang niat sebelum fajar terbit agar puasa tetap sah.
  4. Memahami makna niat yang dibaca
    Bacaan niat bukan sekadar lafalan, tetapi harus dimengerti makna dan tujuannya agar ibadah lebih bermakna dan dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Sebagai penutup, pada dasarnya, niat merupakan ekspresi kesungguhan hati dan keikhlasan dalam beribadah, bukan sekadar lafalan. 

Dengan memahami bacaan, waktu, dan hukum terkait niat puasa Ramadhan, umat Islam bisa menjalankan puasa dengan penuh ketenangan dan sesuai tuntunan syariat. 

Semoga Allah meridhai setiap amal ibadah yang dilakukan di bulan suci ini.

Terkini