JAKARTA - Musim ini menjadi tanda tanya besar bagi kiprah Inter Milan di panggung kompetisi domestik dan Eropa. Ketika rival sekotanya, AC Milan, merasakan keuntungan dari fokus penuh ke Serie A, CEO Inter Milan Beppe Marotta secara terbuka menyinggung kondisi jadwal padat Nerazzurri dan bagaimana itu berpengaruh terhadap peluang Scudetto mereka. Pernyataan ini sekaligus menandai perubahan narasi dalam persaingan dua raksasa sepakbola Italia.
Jadwal Padat Inter: Ancaman bagi Scudetto
Inter Milan baru saja memastikan satu tempat di semifinal Coppa Italia 2025/2026 usai mengalahkan Torino dengan skor 2–1 lewat gol dari Ange Yoan-Bonny dan Andy Diouf. Namun, kemenangan itu datang di tengah tekanan luar biasa atas jadwal pertandingan yang harus mereka jalani sepanjang bulan Februari.
Marotta menjelaskan bahwa Nerazzurri akan menjalani tujuh pertandingan di berbagai ajang, termasuk dua leg playoff Liga Champions melawan Bodo/Glimt dan laga krusial di Serie A melawan Juventus. Dalam situasi seperti ini, beban fisik dan psikologis menjadi tantangan sendiri bagi tim.
Keuntungan Milan: Fokus di Satu Kompetisi
Sementara itu, AC Milan menikmati musim tanpa beban kompetisi lain selain Serie A. Marotta menyebutkan hal ini bisa menjadi keuntungan besar bagi Rossoneri, yang tak perlu memecah fokus di tengah jadwal padat kompetisi kompetitif lainnya.
“Ini bukan cuma duel dengan Milan, tapi semua tim di papan atas… keuntungan tentunya untuk Milan sebagai satu-satunya tim di papan atas yang cuma main di satu kompetisi,”
ujar Marotta dalam wawancara dengan Football Italia.
Dengan demikian, AC Milan dipandang memiliki energi lebih dan waktu pemulihan yang lebih baik antara pertandingan, faktor penting menjelang fase akhir dari pertarungan Scudetto musim ini.
Rotasi Skuad dan Tantangan Fisik Inter
Di tengah kalender yang menuntut, Inter melakukan rotasi besar dalam beberapa laga. Perubahan susunan pemain terlihat saat pertandingan melawan Torino, di mana beberapa pemain muda seperti Matteo Cocchi dan Issiaka Kamate dipercaya tampil sejak awal — bahkan pelatih sempat menurunkan Josef Martinez sebagai penjaga gawang.
Strategi itu mencerminkan adanya kebutuhan untuk menjaga kebugaran inti tim menjelang urutan pertandingan yang sangat padat. Namun, keputusan seperti ini juga bisa berdampak pada konsistensi performa dan hasil secara keseluruhan, karena pengalaman dan chemistry tim utama berkurang saat rotasi besar dilakukan.
Marotta mengakui bahwa beban bermain di berbagai ajang pasti membawa masalah fisik dan psikologis yang tak ringan. Namun, ia memastikan tim tidak akan menyerah dan akan tetap berjuang demi hasil maksimal di semua kompetisi.
Scudetto: Masih Terbuka, Tapi Tekanan Membesar
Di klasemen sementara Serie A, Inter masih berada di puncak dengan keunggulan lima poin atas rival terdekatnya, AC Milan. Namun, status sebagai pemimpin klasemen belum tentu berarti aman. Persaingan di papan atas semakin sengit — seperti yang diakui Marotta — di mana banyak tim kini mengincar hasil maksimal.
Keunggulan poin tersebut bisa saja memudar jika Inter kehilangan fokus karena padatnya jadwal dan tuntutan performa tinggi di berbagai kompetisi. Sementara itu, Milan yang hanya bermain di Serie A bisa mengatur rotasi pemain secara strategis tanpa harus memikirkan kompetisi lain, menciptakan peluang untuk terus memangkas jarak di klasemen.
Dampak Psikologis dan Strategi ke Depan
Lebih dari sekadar soal fisik, kondisi jadwal berat memicu tantangan psikologis yang cukup besar bagi para pemain dan staf Inter. Menurut Marotta, musim lalu Nerazzurri telah membuktikan kapasitas mereka dengan memainkan total 64 pertandingan, termasuk lolos ke final Liga Champions dan bertarung sampai akhir untuk Scudetto. Ini menjadikan pengalaman tim sebagai modal penting dalam kondisi sulit.
Namun, pengalaman saja mungkin tidak cukup jika tekanan terus meningkat tanpa jeda yang memadai untuk pemulihan dan persiapan taktikal. Inter perlu menemukan keseimbangan antara aspek rotasi dan kebutuhan untuk mempertahankan performa di setiap laga.
Sementara itu, bagi AC Milan, strategi tanpa kompetisi lain jelas menjanjikan waktu istirahat yang lebih banyak dan fokus penuh pada satu target besar — gelar Serie A. Marotta sendiri menyadari realitas ini, dan pernyataannya mencerminkan bagaimana rivalitas di sepakbola modern tidak hanya dilihat dari kekuatan skuad, tetapi juga dari manajemen beban kerja sepanjang musim.
Pertarungan Scudetto di Ujung Tanduk
Pertarungan merebut Scudetto musim ini diprediksi akan berlangsung sampai akhir. Inter Milan memiliki modal poin yang lebih unggul, tetapi jadwal padat serta tantangan fisik dan mental menjadi ujian besar bagi Ambisi mereka. Di sisi lain, focus tunggal AC Milan di Serie A bisa menjadi keuntungan strategis yang tidak bisa diabaikan.
Dalam situasi persaingan yang semakin rapat, bagaimana kedua tim akan merespons tekanan dan memanfaatkan keunggulan yang ada akan menjadi cerita menarik di sisa kompetisi — sebuah drama Scudetto yang layak dinanti oleh pecinta sepakbola Italia.